Pesta Yesus menampakkan kemuliaanNya, 6 Agustus 2014


Dan 7: 9-14  +  2Pet 1: 16-19  +  Mat 17: 1-9

 

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.  Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."  Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.  Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"  Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

 

 

 

Meditatio :

Suatu hari Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Gunung apa memang tidak disebutkan, tapi dapat kita telusuri dalam Kitab Suci. Di situ mereka sendiri saja. Hanya mereka berempat. Tempat tenang dan sunyi, sehingga tepat untuk mengasingkan diri. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.  Penampakkan surgawi sungguh-sungguh tampak di depan mata mereka bertiga. Keceriaan dan sukacita benar-benar terasa dalam perjumpaaan mereka. Ada dua tokoh besar juga dalam sejarah Perjanjian Lama. Musa seorang nabi yang tidak bisa dilupakan dalam sejarah pembebasan Israel dari bangsa Mesir, dan Elia seorang nabi yang dengan pedangnya mampu melawan orang-orang yang melawan Allah Israel yang kudus dan mulia.

Kata Petrus kepada Yesus: 'Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia'. Maksud Petrus benar-benar bisa ditangkap dengan baik. Dia ingin menikmati semuanya ini dalam waktu yang amat lama. Mendirikan kemah bagi mereka berarti meminta mereka untuk tinggal selalu di atas gunung itu. Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: 'inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia'.  Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.  Suara yang mereka dengar memang tidak menjawabi apa yang diminta Petrus.  Namun tak dapat disangkal, perintah itu amat jelas. Suara itu tidak ubahnya yang pernah diperdengarkan kepada Daniel yang bersaksi: 'aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah' (Dan 7: 14). Mendengarkan Yesus yang mengajak mereka bertiga ke atas gunung, dan sekarang sedang menyatakan kemuliaan. Mendegarkan Dia amatlah penting, karena hanya kepadaNya Tuhan Allah sang Pencipta langit dan bumi ini berkenan. Layaklah para murid merunduk ketakutan, sebab di hadapan Siapakah mereka sekarang ini.

Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: 'berdirilah, jangan takut!'. Sebagai Orang yang harus didengarkan, Yesus menyapa para muridNya.  Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.  Para murid sepertinya diyakinkan, bahwa yang harus didengarkan bukanlah Musa atau Elia, melainkan sang Guru mereka, yakni Yesus dari Nazaret. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: 'jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati'. Kebangkitan dari antara orang mati kiranya menjadi momen yang penting dalam karya penyelamatan Allah. Saat-saat kemuliaan seperti yang terjadi di atas gunungpun tidak dikehendaki Yesus langsung diwartakan kepada para murid lainnya. Pengakuan terhadap  Anak Manusia benar-benar diharapkan Yesus keluar dari hati setiap orang yang menikmati kematian dan kebangkitanNya. Perintah itu ditaati sungguh oleh Petrus, sebagaimana dinyatakan dalam surat, bahwasannya 'kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, dan kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.  Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus' (2Pet 1: 16-18).

Merayakan kemuliaan sang Anak Manusia tidak lain dan tidak bukan adalah mendengarkan sabda Tuhan Yesus, dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, janganlah kami dibuat terpesona dengan kesenangan sesaat dan ingin terus menikmatinya, tetapi mampukan kami untuk menikmati kemuliaanMu dengan mendengarkan dan melaksanakan sabdaMu, dan orang lain juga dapat mengalaminya melalui kesaksian kami. Amin

 

 

Contemplatio :

'Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia'.

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening