Rabu dalam Pekan Biasa XXI, 27 Agustus 2014

2Tes 3: 6-10  +  Mzm 145  +  Luk 7: 11-17

 

 

Lectio :

Pada suatu hari Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.  Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.  Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!"  Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!"  Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.  Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya."  Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

 

 

 

Meditatio :

Pada suatu hari Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.  Mengapa Yesus membiarkan orang-orang berbondong-bondong mengikutiNya. Bukankah yang diijinkan mengikutiNya adalah mereka yang siap menyangkal diri dan memanggul salib kehidupan? Apakah bentuk komunitas perguruan pada saat itu memang bergaya semacam itu?  Ada kepentingan apa Yesus bersama mereka ramai-ramai pergi ke Nain? Apakah Yesus dipanggil untuk mengadakan KRK di sana?  Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Keterangan lengkap tentang siapakah orang yang meninggal itu. Kemungkinan besar mereka itu keluarga yang baik, sehingga banyak orang menyempatkan diri untuk menemani sang ibu menghantar jenasah untuk dimakamkan.  

Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: 'jangan menangis!'.  Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: 'hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!'.  Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Yesus melakukan semuanya itu, karena tergerak hatiNya oleh belaskasih. Yesus membangkitkan anak muda itu, dan  mengembalikan anak muda itu kepada ibunya. Yesus membangkitkan anak muda itu, bukan karena perhatianNya terhadap OMK, melainkan karena sang ibu itu sendiri. Kasih seorang ibu terhadap anaknya mendatangkan belaskasih Allah.  Semua orang yang ada di situ ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: 'seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah telah melawat umat-Nya'.  Belaskasih Allah ternyata tidak hanya dikhususkan bagi keluarga janda itu, melainkan juga bagi banyak orang yang dengan setia menemani keluarga. Belaskasih dan anugerah Allah memang selalu diperuntukan untuk kepentingan banyak orang (1Kor 12: 7). Anugerah Allah dilimpahkan kepada semua orang, agar mereka semua semakin dekat dan memuji Allah. Yesus tidak saja mengajarkan, bahwa  'banyak orang akan melihat perbuatanmu yang baik dan memuji Bapamu di surga' (Mat 5: 16), tetapi juga melaksanakannya.   Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Santa Monika, ibu pendoa, sepertinya juga menjiwai kerinduan hati ibu dari anak muda yang meninggal itu. Keluhan hati yang diungkapkan dalam doa-doanya mengundang belaskasihn Allah untuk melimpahkan rahmat dan berkat bagi keluarga. Doa seorang ibu medarangkan hujan berkat bagi keluarga; dan itulah yang dirasakan santa Monika dengan bertobatnya sang suami dan anaknya, Agutinus. Seperti yang dikatakan Paulus 'barangsiapa tidak bekerja janganlah dia makan' (1Tes 3), maka demikianlah santa Monika yang sudah berdoa dan berdoa dalam hidupnya, mendapatkan kebahagiaan dan sukacita bersama segenap anggota keluarganya, bukan saja sekarang ini, tetapi juga dalam kemuliaan surgawi. Kesetiaan santa Monika kiranya mendorongkan kita untuk selalu berkanjang dalam doa kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, Engkau dengan mudah tergerak hati oleh belaskasihan bila melihat kesusahan umatMu. Buatlah kami semakin memahami kehendakMu yang menginginkan agar semua orang beroleh selamat, dan terlebih kami mampu memahami sehabis gelap terbitlah terang kehidupan.

Santa Monika, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio :

Semua orang yang ada di situ ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: 'seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah telah melawat umat-Nya'.   

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening