Selasa dalam Pekan Biasa XX, 19 Agustus 2014

Yeh 28: 1-10  +  Mzm  +  Mat 19: 23-30


 

 

Lectio :

Pada suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."  Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"  Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."  Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?"  Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.  Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

 

 

 

Meditatio :

'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga', tegas Yesus. Apakah kita harus menjadi orang-orang yang berkekurangan? Apakah memang Yesus hanya mencintai orang-orang fakir miskin?  'Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah', tambah Yesus.  Sangat gemparlah mereka semua yang mendengarkan.  Bukankah kekayaan itu anugerah dari Tuhan? Bukankah kita harus bekerja, sebab bukankah orang yang tidak bekerja tidak boleh makan? Bukankah para bapa bangsa kita juga orang-orang yang berada? Demikian juga raja Daud adalah seorang yang berkelimpahan hidupnya?   'Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?', komentar para murid. Yesus tanpa gentar memandang mereka dan berkata: 'bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin'. Tidak ada yang mustahil kehendak Allah itu. Dia sang Empunya kehidupan ini. Apakah lebih baik menjadi unta daripada menjadi orang kaya?

Kekayaan memang tidak menentukan seseorang beroleh selamat, sebab yang menentukan keselamatan adalah Tuhan Allah sendiri sang Empunya kehidupan ini, dan bukan banyaknya harta benda yang dimiliki seseorang. Kekayaan itu sekedar alat pemuas bagi setiap orang. Dengan kekayaan, segala sesuatu sepertinya dapat diperoleh dan mudah didapat. Kekuasaan dalam pemerintahan pun dapat diperoleh dengan kekayaan; malah tak sedikit orang membeli kedudukan dalam masyarakat dengan kekayaan yang dimilikinya. Hanya keselamatan yang ditawarkan oleh Tuhan Allah yang tak dapat dibeli dengan kekayaan. Malahan Yesus dengan penyataanNya tadi mengingatkan, bahwa ada beberapa orang yang begitu tenggelam dalam harta benda yang dimiliki; ketenggelaman dirinya itu yang membuat dia sulit memasuki Kerajaan Surga. Orang yang bersandar pada kekayaan sehingga mampu melakukan aneka kebajikan terhadap sesamapun bukanlah sebuah jaminan untuk dapat menikmati hidup kekal, sebagaimana kita renungkan kemarin.

Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: 'kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?'. Apa maksud Petrus dengan pertanyaannya ini? Apakah dia mengajukan sebuah tuntutan, karena mereka merasa sedikit banyak telah melakukan sesuatu sesuai dengan kehendakNya? Apakah dia hanya ingin membalik penyataan Yesus saja?  'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel'. Inilah jaminan yang diberikan kepada keduabelas muridNya. Apakah pemilihan mereka, keduabelas rasul, hanya mengikuti jumlah suku-suku Israel?  

'Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal'. Yesus memberikan jaminan yang sungguh-sungguh melimpah. Dalam Dia segala-galanya menjadi sungguh indah dan luar biasa. Persaudaraan diperluas dengan adanya banyak saudara dan saudari baru, yang saling meneguhkan dan menyempurnakan, dan terlebih menikmati hidup kekal, sebagaimana dikehendaki Allah sendiri. Meninggalkan segala mendapatkan segala-galanya.  'Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu', tambah Yesus. Penegasan ini mengingatkan kita semua, bahwasannya setiap orang harus berani meninggalkan segala-galanya, tetapi kiranya semuanya disertai harapan yang kuat, bahwa Yesus yang mengajak, tentunya Dia pula yang akan memberikan jaminan; dan tidak ada harapan lain selain itu. Sebab kalau kita memaksa Allah dengan segala kebajikan yang kita laksanakan, termasuk meninggalkan segala-galanya, tak ubahnya kita menyamakan diri dengan Dia dan bahkan menguasai Dia dengan segala kebajikan yang dapat kita lakukan. Keberanian seseorang yang menyamai Allah tak ubahnya akan dialami oleh raja Tirus yang menyombongkan diri itu (Yeh 28: 1-10).

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, dengan segala kelebihan dan kemampuan kami, jadikanlah hati kami tulus dan penuh kasih dalam melakukan kehendakMu, agar kamipun dapat menikmati anugerah keselamatan seperti yang Kau kehendaki dalam hidup kami. Amin

 

 

Contemplatio :

'Sangat gemparlah mereka mendengar penyataan Yesus'.

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening