Senin dalam Pekan Biasa XIX 11 Agustus 2014


Yeh 1: 2-5  +  Mzm 148  +  Mat 17: 22-27

 

 

Lectio :

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia  dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.  Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?"  Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?"  Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya.  Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga."

 

 

 

Meditatio :

'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia  dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan', kata Yesus kepada  para muridNya. Mendengar penyataan itu, hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali. Semua diam, tak ada yang berkomentar. Petrus pun tidak berpikir ala insani juga. Semua diam, sepertinya semua sudah mengerti dan berkata: apa yang harus dikata? Apakah mereka semua pasrah dan menyesalkan akan segala yang hendak terjadi pada diri sang Guru? Apakah mereka sungguh-sungguh mengerti misteri penyelamatan Allah?  

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: 'apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?'. Sepertinya mereka mengenal sungguh Yesus bersama seluruh anggota komunitasNya. Mereka sering menjumpaiNya, sehingga mereka berani berkata demikian, menagih kewajiban yang harus diselesaikan Yesus. 'Kami membayar',  sahut Petrus segera, karena memang semuanya selalu ditaati oleh Gurunya. Kami bersama sang Guru tahu yang menjadi kewajiban kami, mana yang harus diberikan kepada kaisar dan mana yang diberikan kepada Allah. Yesus sudah terbiasa membayar pajak.

'Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?',  tanya Yesus kepada Petrus. Yesus mendengar baik apa yang dipersoalkan para muridNya tadi.  Jawab Petrus: 'dari orang asing!'. Jawaban Petrus mengandaikan bahwa Yesus bersama  komunitasNya sebenarnya bebas dari bea dan pajak. Atau memang sebaliknya, mereka selalu membayar,  karena mereka dianggap sebagai orang asing di Kapernaum, dan mereka menyadarinya? Bukankah Dia sering ke Kapernaum dan selalu mengadakan mukjizat di situ? Tidak adakah orang-orang yang mengikuti Yesus mendengar percakapan mereka, sehingga bebaslah mereka dari bea dan pajak? 'Jadi bebaslah rakyatnya',  sahut Yesus menimpalinya.  'Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga'. Jawaban Yesus benar-benar memberi penyataan bahwa segala karya keselamatan yang dilakukan terhadap umatNya, tidak membebaskan Dia dari segala tuntutan bahwa Yesus adalah anggota masyarakat. Segala kebaikan yang dilakukan Tuhan  Yesus tidak melepaskanNya dari segala aneka tantangan dan derita yang harus dipikulNya. Semuanya ini memberi pelajaran bagi kita umatNya, agar kita tidak pamrih terhadap Tuhan, walau kita telah mampu memikul salib kehidupan dan mengikutiNya. Salib harus kita panggul dan kita harus menyangkal diri, tetapi kita tidak mampu kenyataan hidup untuk mengikuti kemauan dan selera kita. Iman kepercayaan kita tidak menghilangkan perasaan panas bila kena terik matahari ataupun basah bila kena guyuran hujan.

Demikian juga tentunya kalau kita aktif dalam hidup menggeraja, kita tidak boleh memaksa Gereja Umat Allah untuk melayani dan menolong kita bila kita berhadapan dengan aneka kesulitan. Kita pun baik terhadap sesama, tidaklah pantas dan layak kalau kita paksa dia membantu dan menolong kita. Baiklah kalau kita melakukan sesuatu, kita lihat sebagai kewajiban anggota persaudaraan dalam hidup bersama. Aku hanya melakukan segala yang menjadi kewajibanku. aku memberi kamu, karena aku mengasihi kamu.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami memahami kehendakMu dengan tulus ikhlas, sebab tak jarang kami ini berani membantu sesama kami, tetapi kami berusaha memaksa dia  siap menolong kami, bila kami mengalami aneka tantangan dan kesulitan.

Santa Klara, doakanlah kami, dan ajari kami menjadi orang-orang yang legowo dalam karya pelayanan kami. Amin

 

 

Contemplatio :

'Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening