Senin dalam Pekan Biasa XX, 18 Agustus 2014


Yeh 24: 15-24  +  Mzm +  Mat 19: 16-22

 

 


Lectio :

Pada suatu hari ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"  Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."  Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."  Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"  Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."  Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

 

 

 

Meditatio :

'Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?',  tanya seseorang yang datang kepada Yesus. Entah siapakah dia itu, paling sedikit ada kepercayaan orang itu pada Yesus, sang Guru dari Nazaret. Jawab Yesus: 'apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik?', tanya balik Yesus kepada orang itu. Apakah memang dia tidak mengetahui sebelumnya? Atau memang dia hanya ingin mencobai Yesus saja?  'Hanya Satu yang baik', tegas Yesus. Apakah Yang Satu itu? Yang Esa? Tidak jelas yang dimaksudkan Yesus. Menurut Markus, apa yang disampaikan Yesus itu adalah Allah sendiri yang Esa dan baik, sebab memang 'tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja'. Yesus berkata demikian, karena orang itu sebelumnya menyapa Yesus: 'Guru yang baik' (Mrk 10: 17-18).

'Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah', tegas Yesus, yakni  'jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Inilah perintah Allah yang membuat setiap orang dapat menikmati hidup kekal.  Kata orang muda itu kepada-Nya: 'semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?'. Ternyata orang yang bertanya ini adalah seorang yang hebat, orang yang saleh, seorang yang seharusnya sudah dapat menikmati kehidupan kekal, yang ternyata sekarang ini belum dirasakan, belum dinikmatinya, karena memang dia telah melakukan segala perintah Allah semenjak semula. Mengapa dia belum menikmati hidup kekal? Apakah ada sesuatu yang kurang?

'Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku', tegas Yesus. Ternyata dia yang sudah terbiasa  tidak membunuh,tidak berzinah,tidak   mencuri, tidak  bersaksi dusta,  dan setia selalu  menghormati  ayah  dan ibunya, dan mengasihi sesamanya, masih jauh dari kesempurnaan hidup. Dia belum sempurna, karena dia ternyata begitu tenggelam dalam harta benda yang dimilikinya. Sepertinya dia mampu melakukan segala perintah Allah secara lengkap hanya karena harta benda yang dimilikinya. Yesus, yang tahu isi hati setiap umatnya, meminta dia meninggalkan segala yang dimilikinya, tetapi dia menolaknya.  Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Apakah kita boleh membalik juga penyataan Yesus, bahwa perintah 'jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri', tidak menjadi jaminan menikmati hidup kekal? Kiranya intensi hati yang menentukan; kalaupun kita dapat melakukan segala perintah Tuhan, tetapi tidak dengan segenap hati, hanya karena sikap pamrih, tentunya kita juga tidak mendapatkan apa-apa. Orang yang kaya tadi melakukan segala sesuatu dengan baik, hanya karena harta benda yang dimiliki. Dia tidak membunuh, tidak berzinah, tidak   mencuri, tidak  bersaksi dusta,  dan setia selalu  menghormati  ayah  dan ibunya, dan mengasihi sesamanya, karena memang dia telah hidup tercukupi dengan harta yang dimilikinya. Dia menang orang hebat, mampu mengekang diri, mengendalikan segala kecenderungan yang ada dalam jiwanya. Dia melakukan segala-galanya hanya karena kaya akan harta benda, tetapi tidaklah mungkin demikian jika dia berkekurangan dalam hidupnya. Menikmati kehidupan kekal adalah kemurahan hati Allah bagi setiap orang, dan kita tidak bisa membelinya dengan harta yang kita miliki.

Kehendak Allah memang merepotkan dan sulit kita mengerti. Itulah yang dilakukan Allah sendiri terhadap Yehezkiel, yakni dengan mengambil isteri yang dikasihinya dari samping hatinya (Yeh 24: 15-24) dan menjadikan Yehezkiel sebagai tanda kehadiran bagi Israel umatNya.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, jadikanlah hati kami tulus tanpa pamrih dalam melakukan setiap perintahMu, agar kamipun sungguh-sungguh dapat menikmati kehidupan kekal bersama Engkau kelak.  Amin

 

 

Contemplatio :

'Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?'.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening