Senin dalam Pekan Biasa XXI, 25 Agustus 2014


2Tes 1: 1-5  +  Mzm 96  +  Mat 23: 13-22

 

 


Lectio :

Pada suatu hari Yesus menegur keras mereka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.  'Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.  Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. 

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.  Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?  Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.  Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya.  Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.  Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya'.

 

 

 

Meditatio :

'Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik', tegur Yesus kepada mereka. Sebuah teguran yang amat keras, karena kemunafikan mereka dalam keseharian mereka. Mereka benar-benar munafik, pertama 'karena mereka  menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga. Mereka sendiri tidak mau masuk tetapi  merintangi orang lain yang berusaha untuk masuk'. Kemunafikan berarti ketidakmauan seseorang melakukan kebajikan, sekaligus melarang sesama untuk berbuat baik. Kedua, mereka  'menelan rumah janda-janda dan  mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang'. Mereka bangga sesamanya menderita, dan secara sengaja memang membuat sesama sengsara. Ketiga, mereka 'mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamanya, tetapi  sesudah bertobat mereka  menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada mereka sendiri'. Mereka bukan saja berpura-pura melakukan kebaikan, tetapi secara sengaja membuat orang sengsara dan menjerumuskan orang lain dalam kebinasaan. Kemunafikan adalah sikap yang berlawanan dengan sikap Allah sendiri yang menghendaki setiap orang selamat.

'Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta', tegur Yesus. Entah siapakah para pemimpin itu. Apakah bukan mereka juga kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat, bukankah mereka telah menduduki kursi Musa? Mereka para pemimpin yang buta, karena memang mereka tidak tahu apa yang mereka sampaikan kepada orang lain. Manakah yang benar:  bersumpah demi Bait Suci atau emas Bait Suci, bersumpah demi persembahan atau mezbah? Mereka tidak paham benar, padahal  'barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ; dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya'.

Bersikap munafik tentunya tidaklah kita ikuti, karena berlawanan dengan kehendak Allah; demikian juga bersumpah. Bersumpah adalah tanda ketidakpercayaan dan ketidaksetiaan diri seseorang. Orang yang setia adalah dia yang berani menyangkal diri dan  memanggul salib kehidupan ini. Keberanian seseorang untuk menyangkal dan memanggul salib akan menghantar dia kepada kemuliaan abadi bersama Kristus. 'Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu,  sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita: suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu' (2Tes 3-5). Inilah pujian Paulus yang memberi peneguhan kepada orang-orang Tesalonika. Iman dan kepercayaan mereka benar-benar memberi warna bagi kehidupan sehari-hari, sehingga aneka kesulitan dan tantangan dan tidak menakutkan mereka terus berani memandang masa depan kehidupan.

Betapa bahagianya kalau pujian Paulus itu juga dikenakan kepada kita. Siapa takut?

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, urapilah kami selalu dengan RohMu yang Kudus, agar menjadi orang-orang yang jujur di hadapanMu, dan selalu mengamini kehendakMu. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening