Jumat dalam Pekan Biasa XVIII, 12 September 2014

1Kor 9: 16-27  +  Mzm 84  +  Luk 6: 39-42

 

 

Lectio :

Pada suatu hari Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?  Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?  Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu'.

 

 

 

Meditatio :

'Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?', kata Yesus kepada para muridNya. Entah apa yang dimaksudkanNya, tetapi yang jelas memang orang buta tidak akan mampu menuntun sesamanya yang buta. Harus ada seorang dari antara mereka yang normal dan sehat adanya, seorang harus lebih dari lainnya. Demikian juga,  'seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya'.  Adakah di antara kita yang sama dengan sang Guru kita? Apakah ada di antara kita yang telah tamat? Adakah di antara kita yang sebentar lagi akan tamat dalam belajar hidup daripadaNya?

'Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?  Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu'. Kaum munafik adalah mereka yang selalu mencari muka, dan merasa diri benar, sedangkan orang lainnya salah. Pembenaran diri terus dikumandangkan, sembari menjelek-jelekkan orang lain. Kaum munafik adalah mereka yang tidak mau menegur diri sendiri, karena memang mereka tidak mau dinasehati, mereka tidak mau diselamatkan, sebaliknya mereka mencari menangnya sendiri, karena mengharapkan pujian dari orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Cara hidup kaum  munafik tentunya amat bertentangan dengan mereka yang menghayati spiritualitas hidup santo Paulus. Sebab seorang Paulus dalam karya pelayanan menunjukkan ketulusan hati yang mendalam. Inilah upahku, bahwa aku memberitakan Injil tanpa upah; malah pemberitaan Injil adalah suatu kewajiban yang dharus dilaksanakan. Celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil (1Kor 9: 16-18). Paulus tidak mencari nama dan pujian; sebaliknya dia hanya mengabdikan diri hanya bagi Tuhan Yesus, sang Empunya kehidupan ini. Paulus terus berjuang dan berjuang untuk menunaikan tugas panggilan yang dipercayakan kepadanya, sebagai pewarta Injil kepada bangsa-bangsa.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, bantulah kami untuk bersikap jujur, dengan berani mengakui segala kehebatan sesama, dan bukannya mencari-cari kesalahan sesama. Kiranya dengan aneka perbedaan dalam kenyataan hidup sehari-hari semakin membuat kami untuk berani berbuat yang lebih baik lagi demi kemuliaan namaMu. Amin

 

 

 

Contemplatio :

'Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening