Jumat dalam Pekan Biasa XXII, 5 September 2014


1Kor 4: 1-5  +  Mzm 37  +  Luk 5: 33-39

 

 


Lectio :

Pada suatu kali orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum."  Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?  Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa."

Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.  Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur.  Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.  Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."

 

 

 

Meditatio :

'Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum', kata orang-orang Farisi kepada Yesus. Apakah memang para murid ini tidak pernah berdoa selama ini? Juga tidak pernah berpuasa? Hanya makan dan minum saja kerjanya?  Kalau murid-murid Yohanes  dan orang-orang Farisi sering berpuasa dan sembahyang, apakah para murid Yesus itu hanya kadangkala saja berdoa? Benarkah? Bukankah mereka malah meminta sang Guru untuk mengajari mereka berdoa (Luk 11: 1)? Kalau dalam hal sederhana itu mereka meminta diajari dan dilatih oleh Yesus, apalagi dalam hal berpuasa. Kiranya pertanyaan dan kritik orang-orang Farisi terhadap para muridNya sungguh benar. Ada kesalahan dari pihak Guru?

'Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?', sahut Yesus kepada mereka. Selama ada bersama Yesus, sang Mempelai, mereka semua tidak perlu berpuasa. Sebab ada bersamaNya, seseorang selalu dalam komunikasi dan pengamatan Yesus sendiri. Ada bersama Yesus mengandaikan seseorang membiarkan diri dibimbing dan dibina oleh sang Guru. Mengapa para murid sibuk untuk tidak makan dan minum, kalau memang mereka selalu dalam kendali Tuhan Allah sendiri? Sebaliknya, ketika tidak bersama denganNya, semua murid harus berpuasa. Setiap  murid harus berani menata diri, dan mengarahkan hati dan budi hanya kepada Tuhan Yesus Kristus. Berpuasa bukanlah soal tidak makan dan minum, melainkan menata aneka kecederungan insani, dan menempatkan kehendak Tuhan dalam diri kita.  

Segala-galanya ada waktunya.  Demikian juga,  'akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, mereka akan berpuasa'. Segala sesuatu dikerjakan hendaknya tepat waktu dan sasaran, supaya segala tindakan itu mempunyai makna dalam hidup setiap orang. 'Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua ataupun tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua'.

Bila demikian, bagi orang-orang yang selalu melakukan kehendak Allah, masih perlukah masa puasa? Kapan saja mereka masih harus berdoa? Sembayang atau doa tidaklah perlu dikatakan sering atau jarang seharusnya. Bagi orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, doa itu merupakan nafas kehidupan. Tanpa nafas kita akan mati, demikian juga tanpa doa kita akan binasa. Bila memang kesadaran ini benar-benar tertanam dalam diri seseorang, dia pun akan tetap menikmati hari Minggu yang memang secara istimewa dipersembahkan kepada Tuhan; sebab bukankah hari Minggu adalah hari kebangkitan hidup? Hari kelahiran baru bersama dan di dalam Allah.  Demikian pula, bila seseorang menghayati spiritualitas Paulus, yang menegaskan , bukan aku lagi yang hidup dalam diriku, melainkan Kristus yang hidup dalam diriku (Gal 2: 20), dia tetap akan selalu menikmati masa Prapaskah dengan penuh kasih: sebuah kesempatan indah untuk merenungkan pengenalan diri akan salib Kristus. Dia pun mau berpuasa, karena keinginan kodrati, yang tak jarang amat dominan menguasai hidup ini, kiranya perlu ditata dan dikendalikan denganpenuh harapan.

 

 

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, ajarilah kami untuk selalu setia berkanjang dalam doa, dan tekun dalam menata diri, sehingga kehendakMulah yang kami hayati dalam hidup sehari-hari, yang memang mengarahkan diri kami kepada keselamatan.

Yesus, bantulah kami dalam berpantang diri. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening