Kamis dalam Pekan Biasa XIV, 18 September 2014


1Kor 15: 1-11  +  Mzm 118  +  Luk 7: 36-50

 

 

Lectio :

Pada suatu hari seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.  Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.  Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.  Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."

Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru".   "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.  Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu." Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.  Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku.  Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.  Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." 

Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni."  Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?"  Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

 

 

Meditatio :

Pada suatu hari seorang Farisi, yang bernama Simon, mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.  Ada acara apa sehingga orang Farisi itu mengundang Yesus? Bukankah mereka, kaum Farisi,  berseberangan dengan Guru dari Nazaret? Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Berani sungguh perempuan itu. Siapakah dia ini? Mengapa mereka tidak melarang dia menjumpai sang Guru? Apakah memang disengaja oleh mereka, karena mereka pernah berdosa bersama dengannya? Apakah karena dia itu seorang pendosa, sehingga  mereka pun merasa akan menjadi najis jika menegurnya?  Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.  Sekali lagi perempuan ini adalah seorang pemberani. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: 'jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa'. Sebuah permenungan kritis yang dinyatakan sang tuan rumah ini. Masakan seorang Nabi membiarkan diri disayang dan dimanja oleh perempuan berdosa; di depan umum lagi.

'Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.  Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?', tanya Yesus kepada  Simon. 'Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya', sahut Simon. Bagaimana mungkin orang yang telah menerima banyak tidak memberikan banyak pula? Secara kodrati setiap orang yang menerima banyak akan semakin berani bersyukur dan bersyukur dalam hidupnya. Semakin banyak rahmat dan karunia yang melimpah dalam diri seseorang semakin membuat seseorang ringan membuka hati dan budinya untuk selalu bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan sang Empunya kehidupan ini.  Rasa syukur itulah yang sekarang ini dilakukan oleh perempuan pendosa ini.  'Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.  Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku.  Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi'. Kapan perempuan itu mengalami belaskasih dan pengampunan dari Tuhan, sehingga sekarang mampu meluapkan rasa sukacitanya dengan meminyaki kepala Yesus, sang Nabi?  Sebab memang,  'orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih'. Perempuan ini begitu banyak melakukan perbuatan kasih, tidak seperti Simon, karena dia telah menerima pengampunan. Pengampunan itu  dirasakan telah diperolehnya secara nyata ketika dia yakin bahwa Yesus itu mahakasih dan pengampun. Yesus itu Tuhan yang mahapengasih dan penyanyang.  Keyakinan itulah yang sekarang diungkapkan oleh perempuan itu, karena  'dosanya yang banyak itu telah diampuni, serentak  ia telah banyak berbuat kasih'.  Keyakinan itulah yang sekarang ini dijawab oleh Yesus dengan menatakan:   'dosamu telah diampuni'.  Kasih karunia itulah yang disadari Paulus juga, bahwa dia memang tidak layak disebut rasul, tetapi 'berkat kasih karunia Allah, aku menjadi seperti sekarang ini' (1Kor 15: 10).

'Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?', kata orang-orang yang hadir di situ. Mereka bertanya-tanya, karena ketidakmengertian mereka tentang Yesus. Mereka galau dan gelisah, karena memang yang mengampuni itu hanyalah Tuhan Allah. Sebaliknya, Yesus yang tahu akan kegalauan hati umatNya berkata: 'imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!'. Yesus memberi jaminan kepada perempuan itu, bahwa dia mendapatkan keselamatan berkat iman yang dimilikinya.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, teguhkanlah iman kami, agar kami hari demi hari semakin berani datang kepadaMu, sebab hanya dalam diriMulah ada kebaikan dan kebahagiaan, ada kehidupan dan keselamatan. Amin.




Contemplatio :

'Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening