Peringatan Maria Berdukacita, 15 September 2014

Ibr 5: 7-9  +  Mzm 31  +  Yoh 19: 25-27

 

 

Lectio :

Pada saat itu dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.  Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"  Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

 

 

Meditatio :

Pada saat itu dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.  Sungguh berani ketiga perempuan itu berdiri di situ. Ke mana para perempuan yang lain? Terlebih-lebih ke manakah para muridNya, yang berjanji ingin setia sampai akhir hidup mereka? Selain mereka adalah para pemberani, apakah memang kehadiran mereka pada saat itu tidak diperhitungkan oleh tentara-tentara Romawi? Apakah memang mereka dibiarkan oleh para tentara agar menjadi penghiburan bagi Raja orang Yahudi itu? Atau mereka tahu, bahwa mereka itu adalah orangtua dan sanak saudaraNya? Namun tak dapat disangkal, mereka adalah perempuan-perempuan perkasa, yang tahu apa artinya menderita.

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: 'ibu, inilah, anakmu!'.  Yesus menyerahkan murid yang dikasihiNya itu kepada ibuNya.  Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: 'inilah ibumu!'. Mengapa Yesus menyerahkan Yohanes kepada sang ibu? Mengapa malah sebaliknya, Maria diserahkan kepada murid yang dikasihiNya? Bukankah dia harus menjaga ibu dari sang Guru? Yohanes memang diserahkan kepada sang ibu, tetapi bukannya mereka tinggal di Nazaret, di mana Maria tinggal, melainkan  'sejak saat itu murid itu menerima Maria  di dalam rumahnya. Secara fisik, Yohanes menerima dan harus menjaga Maria, tetapi Maria secara rohani dalam keibuannya yang penuh kasih menerima Yohanes dalam hatinya. Maria yang dahulu menerima Tuhan, maka dia sebagai ibu Tuhan, kini dia menerima Yohanes, maka saat itulah dia sebagai ibu Gereja, umat yang dikasihiNya.

Maria tidak menolak permintaan sang Anaknya. Dia seorang ibu yang taat kepada  Anaknya, tetapi berkat ketaatannya, Maria menikmati sukacita ilahi yang berlimpah. Dia rela taat kepada sang Anaknya, walau sebilah pedang akan harus menembus dirinya, tetapi tidak gentar dan kuatir. Kiranya ketaatan sang Anak, yang 'sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya' (Ibr 5: 8) juga menjadi panutan bagi Maria dalam menghadapi realitas hidup. Maria, selain sebagai seorang ibu dari Anak Manusia, juga bersikap sebagai seorang murid sang Anaknya sendiri.  

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, jadikanlah kami orang-orang yang berani dan taat akan sabdaMu seperti Maria dalam menjalani hidup, sehingga kamipun dapat menikmati sukacita ilahi serta berbagi kasih kepada sesama. Jadikanlah kami orang-orang yang berani dan setia seperti Maria.

Bunda Maria, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio :

Kata Yesus kepada ibu-Nya: 'ibu, inilah, anakmu!', dan kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: 'inilah ibumu!'.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening