Pesta Salib Suci, 14 September 2014

Bil 21: 4-9  +  Fil 2: 6-9  +  Yoh 3: 13-17

 

 

Lectio :

Pada suatu hari Yesus bersabda: 'tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.  Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,  supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.  Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia'.

 

 

 

Meditatio :

'Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia', tegas Yesus. Yesus berkata demikian, guna meneguhkan siapakah diriNya. Dia berhak kembali ke surga, karena memang Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Kalau pun ada orang naik ke surga atau ke langit tinggi, semuanya itu hanya anugerah dari Tuhan  Allah sendiri kepada mereka, dan bukannya kodratnya yang mampu naik ke surga. Itulah yang dialami Henokh dan Elia. Anak Manusia akan naik ke surga, setelah menyelesaikan tugas perutusanNya di dunia ini yang hendak menyelamatkan seluruh umat manusia dengan menjadi tebusan bagi banyak orang.

'Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,  supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal'. Kapan semuanya itu terjadi? Yakni ketika Yesus bergantung di kayu salib. Sebab pada saat itulah, Dia menyatakan kemuliaanNya. Dari kayu salib, Dia menarik semua orang datang kepadaNya, dalam kemuliaanNya. Di kayu salib, Yesus menyatakan kemuliaanNya. Pada saat itulah Dia mencapai puncak tugas perutusan. Dia dimuliakan, bukannnnya pada saat Dia berubah rupa di atas gunung, melainkan ketika Dia bergantung di kayu salib. Saat itu itulah semua orang harus berani berseru: 'sungguh Dia ini, Yesus Kristus adalah Tuhan' (Fil 2: 11).

Semuanya terwujud, 'karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini'. Allah menyatakan kasihNya, karena memang Dia menghendaki agar semua orang beroleh selamat. 'Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal'.  Dia datang, bukannya untuk mereka yang merasa diri benar, melainkan bagi mereka kaum berdosa, yang memang membutuhkan bantuan  untuk melepaskan diri dari lumpur dosa. Dia seorang Tabib yang datang bagi mereka yang sakit. 'Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia'.

 

 

Collatio :

          Perjalanan umat Israel dari perbudakan Mesir memang mengingatkan akan perjalanan hidup manusia, hidup kita bersama. Kita sering kali menghendaki sekedar kenyamanan insani, dan bukannya jiwa. Perbudakan Mesir, malahan menyenangkan hati banyak orang, karena memang tidak perlu lagi berpikir ini dan itu. Tiap hari bangun dan tiap hari tidur, pekerjaan sudah ada dan tinggal mengalir. Itulah hidup dalam perbudakan. Tidak ada rasa galau, tidak ada kemauan hidup yang lebih baik, apalagi berasa bebas dari kungkungan dosa.

'Dengan makanan hambar ini kami telah muak' (Bil 21: 5). Mereka telah mendapatkan makanan, tetapi merasa muak juga. Tidak ada rasa terima kasih dan syukur dari hati yang mendalam. Tidak ada kesetiaan dalam perjuangan. Karunia dari Tuhan dirasakan membosankan, karena memang selalu digunakan dan dinikmatinya sendiri. Tidak ada salib dalam hidupnya. Makanan tersedia, minuman terjamin, pelbagai anugerah dari Tuhan pun senantiasa menyertainya. Bahkan dia dapat membantu orang tua, dan tidak membunuh, tidak berzinah, tidak merampok, dan tidak berdosa. Namun semua akan menjadi hambar, bila memang tidak ada kesempatan, atau karena memang kita malas memanggul salib kehidupan. Segala yang indah dan baik akan  meninabobokan setiap orang, bila memang kita tidak pernah menyentuh makna hidup sesungguhnya, yakni berjuang, yakni salib kehidupan.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, dampingilah kami selalu, agar tetap teguh dalam memanggul salib  kehidupan ini. Sebab tak jarang, kami ini enggan dan malas dalam memanggul salib, kemapanan hidup membuat kami sering hidup dalam mimpi di siang bolong, membuat kami lupa siapakah diri kami.

Ya Yesus, Salib kehidupan kami, teguhkanlah kami selalu. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening