Pesta Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus


1 Oktober 2014

Yes 66: 10-14  +  Mzm 131  +  Mat 18: 1-5

 

 

 

Lectio :

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"  Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka  lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.  Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

 

 

 

Meditatio :

'Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?', tanya para murid kepada Yesus. Apakah mereka perlu membentuk tim atau koalisi untuk menentukan siapakah yang terbesar kelak di surga? Bukankah yang terbesar dalam kerajaan surga akan mempunyai banyak wewenang seperti di DPR bangsa dan Negara kita? Mendengar pertanyaan mereka, Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka  lalu berkata: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'. Jangankan membicarakan dia yang terbesar dalam Kerajaan Surga, minimal seseorang yang masuk Kerajaan Surga adalah mereka yang mau bertobat dan menjadi seperti anak kecil, yang selalu taat kepada orangtuanya. Ketaatan pada sabda dan kehendak Tuhan menjadi prasyarat pertama bagi setiap orang untuk masuk dalam Kerajaan Surga. Allah tidak memperhitungkan track record seseorang, kemauan sekarang dan di sini untuk mendengarkan dan melaksanakan sabda dan kehendak Tuhan menjadi langkah awal seseorang masuk dalam Kerajaan Surga. Ketaatan untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan adalah sebuah pertobatan, yang memungkinkan setiap orang menikmati Kerajaan Surga.  

'Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga'.  Kerendahan hati seperti anak kecil yang selalu berani meminta dan meminta bantuan dari orangtuanya adalah sikap yang baik dan benar, yang harus dikenakan  dalam relasi dengan Tuhan Bapa di surga. Orang yang merendahkan diri adalah dia yang selalu mendahulukan sesamanya , orang yang tidak mencari kepuasan diri, orang yang selalu mengatakan: aku hanya melakukan segala yang menjadi kewajibanku, orang yang selalu mengutamakan kehendak Tuhan dalam segala-galanya.

Mungkinkah seseorang dapat memenuhi persyaratan yang kedua, tetapi tidak memenuhi persyaratan pertama? Bagaimana seorang anak bisa bergaul dengan teman-temannya, kalau dia tidak taat sama sekali kepada kedua orangtuanya? Bagaimana dia bisa keluar dari rumah, kalau kedua orangtuanya saja tidak ditakutinya? Demikian juga bagaimana seseorang mempunyai kerendahan hati, bila memang dia tidak mau mentaati sabda dan kehendak Allah.  Orang yang taat kepada Tuhan, dia akan selalu mempunyai hati terhadap sesamanya. Seseorang bisa bersikap baik terhadap sesamanya, suka membantu orang lain, tetapi semuanya itu dilakukan sebatas sikap humaniora saja karena aneka perbekalan hidup yang dimilikinya, minimal bekal kodrati, tetapi dia tidak mampu menikmati keselamatan abadi, karena dia tidak mau mengenal Allah, dan melaksanakan kehendakNya. Seseorang menikmati Kerajaan Surga, bukan karena kemauan dan kemampuannya melakukan segala kebajikan dan kebaikan, melainkan karena ketaatannya pada sabda dan kehendak Tuhan.

'Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku', tambah Yesus. Mengapa? Karena dia harus bersikap murah hati seperti Bapa di surga dalam menghadapi anak kecil. Kemurahan hati seperti Bapa di surgalah yang dapat menjadi bekal bagi setiap orang untuk menghadapi seorang anak kecil.

Yesaya mengambarkan kemurahan hati Bapa seperti seorang ibu yang begitu memperhatikan dan menyayangi bayinya, disusui sampai kenyang, digendong dan dibelainya dalam pangkuannya (Yesaya 66 : 10-14). Barangsiapa yang mampu bertindak murah hati terhadap sesama seperti seorang ibu yang begitu penuh kasih terhadap anaknya, sudah barang tentu dia telah terlebih dahulu bisa menerima dan mengasihi Allah di dalam hidupnya. Karena apa? Karena orang tersebut mampu mengerti sabda Allah dan mau melakukan kehendakNya.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Tuhan, dampingilah kami agar semakin memahami kehendakMu dan mempunyai kerendahan hati terhadap sesama kami, supaya kami dapat menikmati keselamatan abadi bersama Engkau di surga kelak.

Santa Teresia, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio :

'Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku'.

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening