Rabu dalam Pekan Biasa XIV, 17 September 2014


1Kor 12:31 – 13:1  +  Mzm 33  +  Luk 7: 31-35

 

 

Lectio :

Pada suatu hari Yesus bersabda: 'dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?  Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.  Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan.  Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.  Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya'.

 

 

 

Meditatio :

'Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis'. Inilah perumpamaan yang dikenakan Yesus kepada orang-orang yang mendengarkanNya. Mereka semua itu tidak mau tahu dengan orang lain, yang ada di sekitarnya. Mereka menutup mata dan telinga terhadap segala yang terjadi di sekitar mereka, bahkan mereka memakai kacamata hitam dan earphone. Dunia mereka adalah dirinya sendiri.  'Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: ia kerasukan setan.  Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa', tegas Yesus. Egoism diri yang membuat mereka merasa bahwa diri sendiri adalah dunia ini. Akulah yang benar. Orang lain itu bodoh dan salah. Dia sulit mengakui orang lain lebih baik dan pandai daripada dirinya. Namun sekali lagi, dunia ini tidak sebatas dia, tidak sebatas daya kemampuan diri saya. Karena itu, 'hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya'.

Egoisme memang amat berkebalikan dengan kasih. Egoism meminta seluruh dunia ini masuk dalam dirinya, sebaliknya kasih mengundang setiap orang keluar dari dirinya dan berbagi dengan sesama dan dunia. Dia 'tidak mau mencari keuntungan diri sendiri'. Kiranya yang malahan hendaknya menjadi kesadaran kita bersama ialah 'sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku' (1Kor 13: 3-5). Egoism selalu memamerkan diri, bila memang telah berhasil melakukan sesuatu dengan baik, tak jarang pula kita memaksa orang untuk memberi tepuk tangan kepada kita karena kita berhasil dengan baik. Tidaklah demikian dengan kasih, seperti yang dikatakan Paulus tadi. 'Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong'.

Kiranya untuk semakin mengenal Anak Manusia, yang makan dan minum itu, yang memang hidup sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa, perlulah bagi kita untuk berani membaca dan membaca kitab suci. Dengan membaca kita suci, kita akan mendengarkan suaraNya. Semakin sering kita membaca kitab suci, maka kita akan semakin akrab dengan suaraNya. Maka benarlah santo Albertus dari Yerusalem, seorang Uskup Yerusalem, yang memberikan Regula bagi para karmelit, yakni mereka orang-orang yang tinggal di gunung Karmel, untuk hidup sehari-hari seturut dengan kitab suci. Regula Karmel adalah sebuah peraturan hidup yang disusun berdasarkan kitab suci, yang memang dimaksudkan agar mereka para karmelit, kita semua untuk semakin hidup sesuai dengan sabda yang tertera dalam kitab suci.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, jadikanlah kami pribadi yang tidak egois dan sombong dengan segala yang telah berhasil kami lakukan, sebaliknya mampukanlah kami melakukan sabdaMu, dengan bermurah hati dalam berbagi kasih kepada sesama.

Santo Albertus, doakanlah kami. Amin




Contemplatio :

'Kalian ini seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.'

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening