Sabtu dalam Pekan Biasa XIV, 20 September 2014


1Kor 15: 42-46  +  Mzm 56  +  Luk 8: 4-15

 

 

 

Lectio :

Suatu hari ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.  Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.  Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.  Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.  Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.  Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.  Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.  Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

 

 

 

Meditatio :

'Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.  Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati; dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat', kata Yesus kepada banyak orang yang mengelilingiNya untuk mendengarkan pengajaranNya. Yesus sepertinya tidak menerangkan apa-apa.  'Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!', tambah Yesus. Yesus tidak menerangkan, entah kenapa.

'Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti', sahut Yesus kepada para muridNya yang meminta penjelasan atas perumpamaan itu. Ternyata secara sengaja memang Yesus tidak menerangkannya. Apakah penyataanNya ini sungguh-sungguh menegaskan bahwa maksud dan kehendakNya itu hanya disampaikan secara istimewa kepada  'mereka yang berkenan kepadaNya'  (Luk 2:14), demikian juga  tempat duduk yang disediakanNya di surga  (Mat 20: 23)? Kalau demikian, mengapa hal itu disampaikan kepada banyak orang? Beruntunglah para murid, dan kita semua, yang mendapatkan keterangan panjang lebar tentang perihal Kerajaan Surga.

'Inilah arti perumpamaan itu: benih itu ialah firman Allah.  Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan'. Siapakah mereka itu? Mengapa mereka dibiarkan saja berdiam diri? Mengapa Allah tidak membela mereka? Mengapa tidak ada perjuangan sedikitpun dari diri mereka?  'Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad'. Sabda Tuhan yang mereka dengar itu masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Mereka sempat percaya, dan bahkan bergembira ketika mendengarkannya, tetapi sabda itu tidak menjadi milik pribadinya. Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai sense of belonging terhadap sabda yang diperdengarkan. Mereka adalah orang-orang yang tidak menaruh hati terhadap sabda Tuhan, terhadap keselamatan yang dijanjikan Tuhan.

'Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang'.  Mendengarkan sabda Tuhan dilakukan oleh mereka, tetapi kepentingan insani ini amatlah mendominasi dalam hidupnya. Sabda Tuhan tidak memberi kepastian hidup, tidak membuat orang berlimpah-limpah hartanya, tidak membuat orang kenyang, tidak membuat orang bebas dari segala ancaman dan rintangan. Mereka mendengarkan sabda Tuhan, tetapi tidak percaya. Ketidakpercayaan akan sabda membuat  kekuatiran hidup semakin menjamur dalam diri mereka.  

'Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan'. Sabda Tuhan yang didengar, dinikmatinya sungguh-sungguh dalam hidup. Merenungkan dan menghayati sabda Tuhan itu tak ubahnya membiarkan Tuhan sendiri hidup dalam diri kita. Sulit? Ya memang, karena kita yang biasa menuruti keinginan insani ini, kini harus membiarkan Tuhan yang berbicara dalam mulut kita, membiarkan Tuhan yang berbagi kasih dengan sesama. Bukan aku sendiri yang hidup dalam diriku, melainkan Kristuslah yang hidup di dalam aku.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, persiapkanlah hati kami menjadi tanah subur yang siap menerima taburan benih sabdaMu, merenungkan dan melaksanakannya, membiarkan Engkau membimbing kami dalam berbagi kasih kepada sesama kami.

Santo Paulus Chong dan Andreas Kim, doakanlah kami.  Amin



Contemplatio :

'Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening