Sabtu dalam Pekan Biasa XVIII, 13 September 2014

1Kor 10: 14-22  +  Mzm 116  +  Luk 6: 43-49

 

 

Lectio :

Pada suatu hari Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: 'tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.  Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.  Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.

Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?  Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya -- Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan --,  ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.  Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya'.

 

 

 

Meditatio :

'Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.  Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur', tegas Yesus. Adakah orang mengatakan ini buah alpukat, bila memang dia membawa buah manggis yang baru saja dipetik dari kebun?   'Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat, karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya'.  Namun bagaimana dengan mereka kaum  munafik? Bukankah segala yang dikatakan dan dilakukan hanya untuk mengelabui mata banyak orang? Bukankah mereka ini menghalang-halangi orang yang mau masuk Kerajaan Surga, padahal mereka sendiri tidak ada keinginan untuk menikmatinya? Keindahan palsu itulah yang memeng menjadi perbendaharaan hati mereka; di sinilah setiap orang harus mempunyai kepekaan hati yang mendalam bila memang kita harus berhadapan dengan serigala yang berbulu domba.

'Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?'. Iman kepercayaan memang tidak sebatas pada kelembutan bibir dalam mengumandangkan doa dan pujian ataupun pada kelancaran diri seseorang menyampaikan untaian aneka permohonan. Teguran Yesus ini memang benar-benar mengingatkan para murid, kita semua, bahwa yang memberi kepastian seseorang beroleh selamat, bukanlah keindahan doa dan pujian kita, melainkan pada kehendak Allah sendiri yang disabdakan kepada kita umatNya.  'Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya,  sama dengan seorang yang mendirikan rumah: orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun'. Sabda Tuhan bukan saja memberikan jaminan akan keselamatan di akhir jaman, melainkan juga berkat dan rahmat dalam hidup sekarang ini. Sabda Tuhan menjadi batu karang, batu pijak, bagi setiap orang yang menghadapi aneka tantangan kehidupan. Sebaliknya,  'barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar; ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya',  tegas Yesus.

 

 

Collatio :

          Yang diucapkan dari mulutnya keluar dari hatinya. Itulah yang benar memang secara subyektif, tetapi tak jarang seseorang dapat bersandiwara, bermain wajah dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kalau kita bersikap munafik berarti kita secara sengaja ambil bagian 'dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat' (1Kor 10: 21-22)? Janganlah itu kita lakukan, bila kita tidak memperhatikan tidak ubahnya 'kita membangkitkan cemburu Tuhan?'.  Tak dapat disangkal memang sering kali orang tidak merasakan, bahwa dia sedang berdiri di atas dua kaki dalam hidupnya, karena memang kodrati kita mencari yang menyenangkan jiwa. Namun sekiranya kita selalu berpegang teguh pada sabda Tuhan, entah dalam pengalaman manis ataupun pahit, kita akan selalu berada dalam kehendak  Tuhan. Walau ada banyak kesulitan, walau ada keterbatasan diri baiklah kita tetap bertekad penuh membangun rumah di atas wadas yang kuat.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, dampingilah kami selalu, agar tetap teguh dalam sabdaMu dan setia melakukan kehendakMu. Di saat menghadapi situasi kehidupan yang sesulit atau sepahit apapun kami tetap bersukacita dan dapat menikmati keindahan kasihMu. Amin

 

 

Contemplatio :

'Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya, sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening