Selasa dalam Pekan Biasa XXVI 29 September 2014

Ayb 3: 1-3  +  Mzm 88  +  Luk 9: 51-56


 

 

Lectio :

Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,  dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.  Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?"  Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.  Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

 

 

Meditatio :

Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,  dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia.  Hampir genap waktunya? Dihitung dari mana? Bukankah ini masih bab 9 dalam Injil Lukas? Bagaimana penempatan perikop ini di pertengahan Injil? Yang jelas, dan memang tak dapat disangkal, bahwa Injil bukanlah sebuah laporan sejarah atau rentetan sebuah peristiwa demi peristiwa. Injil adalah sebuah pengenalan umat Allah akan Kristus Tuhan.

Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya; tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Mengapa? Karena memang kiblat mereka berbeda satu dengan lainnya. Sebab orang-orang Samaria harus menyembah Tuhan Allah di atas gunung ini, sedangkan orang-orang Yahudi, Yerusalem (Yoh 4: 20). Perbedaan kiblat inilah yang  juga menjadi pertentangan antar mereka. Mereka sulit untuk bertemu. Wajarlah kalau mereka menolak kehadiran para murid. Penolakan terhadap mereka adalah penolakan terhadap sang Guru. 'Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?', tegas Yakobus dan Yohanes yang ingin membela sang Guru. Mereka ini tak ubahnya sikap Petrus sendiri yang memikirkan diri sendiri dan tidak berpikir sebagaimana dikehendaki Allah sendiri (Mat 16: 23). Mereka bersikap demikian, karena beranggapan apa yang mereka lakukan adalah sesuai dengan Tuhan: menggunakan kekerasan dengan alasan membela sang Guru; kekerasan berlabel agama. Paus Fransiskus seminggu yang lalu mengingatkan hal ini.

Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.  Tidak ada satu agamapun yang mengajarkan kekerasan. Tidak ada kepercayaan kepada Tuhan sang Empunya kehidupan ini yang mengijinkan umatNya menggunakan tangan besi dalam membela iman kepercayaan. Diterima oleh orang lain, diragukan oleh sesama, dan bahkan ditolak oleh orang-orang yang ada di sekitar kita adalah hal wajar dalam hidup. Inilah realitas hidup, yang malahan memang harus kita nikmati bersama. Keluhan Ayub dalam kitabnya (3:1-23), kiranya meneguhkan kita bersama untuk berani menerima kenyataan hidup. Semuanya itu harus kita syukuri karena mempunyai makna yang indah, yang jauh dari perkiraan kita jauh-jauh sebelumnya.

Lalu mereka pergi ke desa yang lain. Kehendak Allah untuk menyelamatkan umatNya tidak berhenti, karena perlawanan dan keengganan umatNya. Allah menghendaki semua orang beroleh selamat. 'Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang' (Mrk 1: 38).

 

 

Oratio :

Ya Yesus Tuhan, kami begitu mudah menghakimi, kami amat emosional, bila ada perlawanan, terlebih-lebih penolakan terhadap diri kami. Sebab kami memang merasa diri benar dan lebih baik daripada lainnya. Yesus ajarilah kami berani menerima kenyataan yang ada di sekitar kami, terlebih bila tidak sesuai dengan keinginan kami.

Santo Hironimus, doakanlah kami. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,  dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia'.

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening