Kamis dalam Pekan Biasa XXVIII, 16 Oktober 2014


Ef 1: 1-10  +  Mzm 98  +  Luk 11: 47-54

 

 

Lectio :

Pada suatu kali kembali Yesus mengecam orang-orang Farisi, kataNya: 'celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka.  Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya,  supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan,  mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi."

Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal.  Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.

 

 

 

Meditatio :

'Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka', tegur Yesus kepada orang-orang Farisi.  'Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya'. Makam para nabi bukanlah seperti makam para pahlawan kita. Kalau para pahlawan kita adalah mereka yang memang benar-benar membela  dan menyemangati kita untuk berperang melawan dan mengusir para penjajah, sebaliknya para nabi adalah orang-orang yang diutus oleh Tuhan menyampaikan kabar keselamatan kepada kita, tetapi kita menolak mereka; bagaimana kita sekarang merawat dan mempercantik makamnya. Bukankah ini berarti bahwa kita memang setuju dengan pembunuhan terhadap mereka?  Karena kita, sebagai orang-orang Farisi pada jaman itu, yang mengamini tindakan dan perbuatan nenek moyang kita, maka benarlah  'hikmat Allah yang mengatakan: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya,  supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan,  mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah'.

Berat kali, kalau kita harus menanggung semuanya ini. Tidak adakah jalan tengah, win win solution?  Kami harus menanggung dosa dan kesalahan nenek moyang kami?  Errare humanum est, perseverare autem diabolicum, kata Seneca, orang Kosambi, yang artinya melakukan kesalahan itu amat manusiwawi, tetapi meneruskan kesalahan itu iblis. Maka kiranya jalan satu-satunya yang harus ditempuh untuk mendapatkan keringanan hukuman ataupun pengampunan adalah pertobatan. Pertobatan itu wajib hukumnya! Sebagaimana yang dilambangkan bapa yang murah hati menerima kembali anak bungsu, yang mengobralkan harta benda yang telah dibagikan, dan terlebih yang dilakukan Yesus sendiri terhadap Maria Magdalena dan seorang penyamun yang disalib bersamaNya, demikianlah satu-satunya intensi pertobatan. Allah tidak memperhitungkan dosa setiap umat yang bertobat. 'Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN' (Mzm 32: 1-2).

'Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi'. Betapa kurang ajarnya para ahli Taurat. Entah alasan apa mereka berbuat seperti itu. Kalau memang mereka tidak suka atau tidak mampu, kiranya  menyerahkan kepercayaan itu kepada orang lain yang menghendakinya. Egoisme diri sebagai orang-orang yang berkuasa amatlah kuat dalam diri mereka. Semuanya itu menunjukkan diri bahwa mereka sebetulnya orang-orang yang lemah dan terbatas, tetapi tidak mau mengakui diri. Orang-orang seperti tidaklah patut diberi pujian, sebaliknya oleh Yesus malah dikecam habis-habisan; tentunya supaya mereka bertobat dan bertobat.

'Setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal.  Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya'. Licik kali memang para ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini. Dengan kecaman-kecaman itu, mereka tidak berani menangkap dan memberangus Yesus. Kalau memang mereka itu para pemberani, mereka pasti segera menangkap Yesus dengan pelbagai kecaman yang telah diucapkanNya.  Mereka sepertinya mengakui apa yang disabdakan Yesus itu sungguh benar. Mereka mengakui diri sebagai orang-orang jahat.

 

 

 

Collatio :

Tentunya tidak ada di antara kita yang seperti orang-orang Farisi. Kita adalah orang-orang yang tahu berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan. Kiranya surat Paulus kepada umat di Efessus ini meneguhkan kita bersama.  'Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.  Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,  supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,  yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian'  (Ef 1: 3-8).

 

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, teguhkanlah kami, agar kami selalu menjadi orang-orang yang tahu berterima kasih dan bersyukur kepadaMu, sebab kami telah menerima banyak hal yang indah yang berasal daripadaMu. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,  supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya'.

 

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening