Rabu dalam Pekan Biasa XXVII, 8 Oktober 2014


Gal 2: 7-14  +  Mzm 117  +  Luk 11: 1-4

 


 

Lectio :

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya."  Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.  Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya  dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

 

 

Meditatio :

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: 'Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya'. Menarik kali memang, seorang Guru tidak pernah mengajarkan bagaimana para muridNya harus berdoa, sehingga mereka sendiri yang harus meminta. Mengapa Yesus tidak pernah mengajar para muridNya berdoa?  Mengapa Yesus tidak pernah juga mengajak para muridNya berdoa bersama-sama denganNya? Mengapa Yesus tidak pernah mengajarkan teknik-teknik berdoa, bukankah berdoa itu harus menjadi nafas kehidupan? Sepertinya komunitas Yohanes lebih maju dalam hidup rohani dibanding para murid Yesus. Berdoa bukanlah hal baru. Semenjak Perjanjian Lama, para nabi sudah mengajak setiap orang untuk berani berdoa dan berdoa.   

Jawab Yesus kepada mereka: 'apabila kamu berdoa, katakanlah:

Bapa, dikuduskanlah nama-Mu;

datanglah Kerajaan-Mu.  

Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya  

dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami;

dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

Yesus yang biasa berdoa semalam-malaman hanya mengajar sebuah doa yang begitu singkat. Apakah hanya doa itu saja yang dikehendaki Yesus bagi para muridNya? Para murid pun berdiam saja mendengarkan tanggapan Yesus; mereka tidak berkomentar.  Mengapa mereka tidak bertanya: mengapa Guru begitu lama bila berdoa seorang diri? Doa apakah yang dilambungkan sang Guru? Apakah hanya doa seperti ini dan diulang-ulang? Mengapa hanya doa sesingkat ini yang daiajarkan kepada kami? Mengapa Guru tidak pernah mengajak kami semua bersama-sama berdoa? Mengapa Yesus mengajarkan doa seperti ini? Apakah ketiga murid, yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes, diajak ke atas gunung memang diajak untuk berdoa, bukankah mereka malah tertidur ketika Yesus menampakkan kemuliaanNya?  Tidak maukah kalian berjaga bersamaKu, kata Yesus ketika mereka semua bersama-sama berada di taman Getsemani. Mereka tidak mampu berjaga, apakah karena memang mereka tidak terbiasa berdoa bersama? Apakah semuanya ini adalah kekurangan Yesus?

Apakah seandainya Paulus menjadi salah seorang murid, dia akan berani memprotes  Yesus: mengapa sang Guru tidak pernah mengajak kami semua berdoa bersama-sama, bukankah Paulus merasa bangga pernah menegur  Petrus yang dianggapnya  bertindak munafik (Gal 2: 11-14)? Apakah dia juga bersikap pemberani seperti Petrus yang memang pernah menarik Yesus, yang sengaja secara menyatakan bahwa Mesias harus menderita dan dibunuh oleh tua-tua bangsa Yahudi?

 

 

Oratio :

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk selalu berkanjang dalam doa. Semoga doa menjadi nafas kehidupan kami, agar dalam hidup ini kami semakin merasakan berkat dan perlindunganMu.

Bapa, dikuduskanlah namaMu. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Datanglah Kerajaan-Mu.  

Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya'.

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening