Rabu dalam Pekan Biasa XXVIII, 15 Oktober 2014


Gal 5: 18-22  +  Mzm 1  +  Luk 11: 42-46

 

 


Lectio :

Pada suatu kali Yesus mengecam orang-orang Farisi, kataNya: 'celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.  Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya."

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: "Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga." Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun".

 

 

Meditatio :

'Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan', kecam Yesus kepada mereka.  Mereka orang-orang Farisi hanya mencari dan melakukan perkerjaan yang ringan, tetapi tugas dan tanggungjawab mereka yang berat dan membutuhkan perhatian serius, mereka tinggalkan. Apalah arti membayar persepuluhan aneka sayur-sayuran, bila dibandingkan dengan melakukan dan memperhatian keadilan? Sebagai orang-orang yang mampu dan bertanggungjawab, karena mengingat peran mereka dalam tradisi keagamaan, mereka sungguh-sungguh orang yang jahat. Kaum Farisi adalah orang-orang jahat. Yesus bukan saja menegur mereka, malah mengecamnya habis-habisan. Mereka adalah orang-orang yang mampu, tetapi tidak mau melaksanakan  tugas dan tanggungjawabnya; kaum Farisi adalah orang-orang yang mencari kepuasan diri.

'Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar'. Ternyata adalah sebuah kejahatan yang tersembunyi, bila orang hanya mencari penghormatan dan pujian diri. Sebab mereka itu tidak akan memberi pelayanan kepada sesamanya. Mereka bermental priyayi dan ningrat.  Mereka adalah orang-orang yang tak tahu malu, karena meminta dilayani oleh orang lain. Jabatan dan kuasa yang mereka miliki  dipakainya untuk memaksa orang lain untuk berunduk di hadapan mereka. Cara hidup mereka orang-orang yang minta dihormati bertentangan sungguh dengan spiritutalitas hidup kristiani.  Esto quod esse videris, tampillah apa adanya, jujur tanpa adanya kepalsuan, kata orang Sukun Permai. Inilah ciri khas orang yang hidup sederhana

'Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya'. Kemunafikan mereka itu benar-benar bernilai tinggi, karena memang kelicikan mereka itu tidak diketahui oleh sesamanya. Hanya Tuhan Allah yang mampu mengatasi segala kemampuan umatNya. Manusia tak mampu mengelabui Tuhan. Mereka benar-benar orang yang pandai, bukan untuk membangun sesamanya, melainkan untuk membohongi dan menipu sesama, dan bahkan tak segan-segan menjerumuskan orang untuk masuk dalam lobang dosa yang dalam.

'Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga', komentar seorang ahli Taurat yang ada di tengah-tengah mereka. Mengapa dia bertanya seperti itu? Mengapa dia protes? Apakah dia tersinggung? Kalau pun tersinggung, mengapa dia tidak berdiam diri saja, supaya tidak membuka borok di hadapan sesama?  Kepandaian mereka ternyata sebuah kebodohan yang mendalam. Namun tak dapat disangkal, banyak orang-orang Farisi yang mempunyai profesi ahli Tuarat. Benar, sahut Yesus, 'celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun'. Sekali lagi mereka ingin lepas tangan terhadap tugas yang berat, mereka tidak mau tahu dengan keselamatan sesama. Kepandaian  dalam Kitab Suci sebenarnya harus membuat mereka semakin mampu menjadi pelayan-pelayan Tuhan yang handal, tetapi dijungkirbalikan oleh diri mereka sendiri.

 

 

Collatio :

Tentunya tidak ada di antara kita yang seperti orang-orang Farisi. Kiranya yang harus terus-menerus kita renungkan dan kita usahakan adalah sejauhmana kita yang 'menjadi milik Kristus Yesus, teru-menrus berani menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Sebab jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh' (Gal 5: 24-26). Kiranya  kita semakin menghayati spiritualitas pelayanan Yesus Kristus, yang serupa dengan Allah tetapi telah mengosongkan diri, dan mau menjadi hamba bagi sesamaNya.

Orang, yang selalu membiarkan diri dibimbing oleh Roh Allah yang hidup, akan selalu berani memasuki puri bathin perjalanan hidup dengan bersikap seperti Yesus, sebagaimana Yesus sendiri bersikap kepada kita (kontemplatif). Puri bathin sebagaimana diajarkan oleh santa Teresa Avilla adalah sebuah usaha untuk menjadi murid Kristus yang setia, dan bukannya penuh kemunafikan, sebagaimana dilakukan orang-orang Farisi. Segala anugerah yang kita miliki harus semakin mampu mendekatkan diri serupa dengan Kristus Tuhan.

 

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, bantulah kami dalam untuk selalu siap sedia ringan tangan dalam hidup bersama, menolong dan menanggung mereka yang lemah, sebab hanya berbuat demikian, kami dapat berbagi kasih terhadap sesama, sebagaimana Engkau minta sendiri dari kami.

Santa Teresa Avilla, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening