Rabu dalam Pekan Biasa XXX, 29 Oktober 2014

Ef 6: 1-6  +  Mzm 145  +  Luk 13: 22-30
 
 

 
Lectio :

Pada saat itu Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.  Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?"   Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.  Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang.  Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.  Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!  Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar.  Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.  Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir."
 

 
Meditatio :

'Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?'. Mengapa pertanyaan seperti itu muncul juga di jaman Yesus? Kehendak Allah adalah semua orang selamat, tetapi tidak semua orang bisa mengikuti kehendakNya; bukan karena sulit atau tidak mungkin dilaksanakan, melainkan karena ketidakmauan banyak orang untuk lepas dari segala kecenderungan insani. Banyak orang ingin memberikan kepuasan diri kepada dirinya. Aneka peristiwa inderawi lebih mendapatkan perhatian dibanding peristiwa-peristiwa rohani. Banyak orang sepertinya memprediksi, kalau sedikit saja orang yang akan  dapat menikmati keselamatan. Mendengar pertanyaan seperti itu, Yesus berkata kepada orang-orang di situ: 'berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!'. Yesus tidak menjawab pertanyaan. Dia hanya meminta agar setiap orang berani berjuang dan berjuang dalam mengejar keselamatan. Sebuah perjuangan yang amat melelahkan; tak ubahnya masuk melalui pintu yang sempit.  'Aku berkata kepadamu: banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat'.  Yesus pun sadar ternyata ada banyak orang yang tidak mampu masuk melalui pintu yang sempit itu.
Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Sepertinya tidak ada unlimited waktu. Segala-galanya ada waktunya. Benarlah yang dikatakan sang pengurus kebun itu: 'biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,  mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!' (Luk 13: 8-9).  Kalau pun ada yang berkata:  'kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami, Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!'.  Terlambat, adalah istilah yang hanya dapat dikenakan kepada mereka orang-orang yang tidak mau mengikuti panggilan dan peringatan Tuhan. Terlambat,  dalam karya keselamatan bukanlah soal waktu, melainkan karena kurang-pedulian seseorang memperhatikan panggilan Allah. Resikonya, 'di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi'. Dan hal yang tidak diharapkan akan terjadi, yakni 'kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah; banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar'.
Tidak ada untungnya memang mengulur-ulur waktu, menunda-nunda datangnya keselamatan Ilahi, hanya karena kita tidak mau masuk pintu yang sempit, kita malas berusaha mendapatkan yang Ilahi itu. Di mana-mana selalu diajarkan, bahwasannya kemalasan diri itu tidak ada faedahnya. 'sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir'. Karena bisa begitu? Semuanya itu bisa terjadi hanya karena keengganan orang-orang terpilih, sebagai umat milik Allah yang tidak mau menggunakan segala kebaikan dan kemurahan hati Allah. Banyak orang menginginkan durian jatuh dari atas. Mereka lupa, durian pun akan jatuh kalau memang ada terlebih dahulu yang menanamnya.
'Lakukanlah segala sesuatu dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, bukan hanya untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan' (Ef 6). Kiranya bila harapan Paulus ini kita laksanakan, kita bukanlah orang-orang yang terlambat; sebaliknya menjadi orang-orang yang beroleh selamat dan pedampinganNya.
 
 

 
Oratio :
 
Ya Yesus Kristus, bantulah kami dengan Ro kasihMu, agar kami menjadi orang-orang yang pantas beroleh keselamatan daripadaMu, bukan saja kelak di akhir jaman, tetapi sekarang ini pun sudah boleh kami nikmati kasihMu yang membahagiakan itu. Amin
 
 


Contemplatio :

'Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!'
 
 






Oremus Inter Nos, 
Marilah kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening