Selasa dalam Pekan Biasa XXVIII, 14 Oktober 2014


Gal 4:31 – 5:6  +  Mzm 119  +  Luk 11: 37-41


 

 

Lectio :

Pada suatu kali ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.  Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.  Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.  Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu".

 

 

Meditatio :

Pada suatu kali ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.  Alasan apa orang Farisi itu mengundang Yesus? Bukankah mereka terus-menerus berseberangan? Apakah memang dimaksudkan untuk mengadakan pendamaian dengan makan bersama? Atau malahan untuk menjebak sang Guru dalam kesempatan makan bersama itu?  Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.  Anak-anak bina iman mungkin juga bisa kaget, karena Yesus tidak berdoa lebih dulu sebelum makan.

'Kamu orang-orang Farisi', tegur Yesus kepada mereka semua. Berani sungguh memang Yesus ini. Di rumah mereka dan dalam acara makan bersama, Dia tetap berani menegur kalau memang salah apa yang yang dilihat dan dirasakanNya. Inilah tugas perutusan nabi yang seharus mengatakan segala yang benar adanya, di mana dan kapan pun mereka berada.   'Kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan'.  Mereka hanya membersihkan apa yang tampak di luar, tetapi tidaklah diapa-apakan, minimal disentuh, bagian dalam dari cawan itu. Membersikahn cawan bagian luar memang lebih mudah, dibanding membersikan bagian dalamnya. Sebuah perumpamaan yang amat sederhana. Soal cuci tangan dipersoalkan mereka, mereka begitu mudah melihat selumbar di mata saudara, tetapi kejahatan mereka sendiri tidak mereka nyatakan, malah mereka tutup-tutupi.  

'Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?'. Tuhan Allah menegetahui dan mengenal yang tersembunyi dalam hati mansuia. Allah mengenal isi hati dan budi umatNya. Sebelum berkata-kata aku, Engkau sudah mengerti isi pikiranku, ya Tuhan (Mzm 139). Jangan hanya membersikan cawan bagian luarnya saja, tetapi juga bagian dalamnya juga. Bersikanlah juga hatimu, dan sebagai tanda tobat: 'berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu', sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Zakheus yang  'memberikan setengah dari miliknya  kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang diperas dari seseorang akan mengembalikannya empat kali lipat' (Luk 19: 8). Kesadaran untuk bertobat dan bertobat malahan muncul dari seorang pemungut cukai, dan bukannya dari orang-orang Farisi yang memang menduduki kursi Musa dan mempunyai tempat terhormat di tengah-tengah masyarakat. Isi dunia ini memang tak jarang selalu terbalik.

 

 

Collatio :

Membersikan cawan bagian luar memang sering menjadi ukuran bagi banyak orang. Apalagi kalau itu dikerjaan secara bersama-sama guna menunjukkan power people yang dimilikinya. Sekali lagi, apalagi yang dikerjakan itu adalah tindakan karitatif, semuanya ditampakkan, karena dimaksudkan supaya dilihat oleh banyak orang. Semua itu memang sudah mendapatkan upah. Namun apakah kita sebatas membasuh tangan sebelum makan dalam kehidupan bersama? Mengutamakan pembersihan bagian luar cawan dan membasuh tangan sebelum makan tak ubahnya kita kembali dan melakukan segala sesuatu sebatas pemenuhan hukum Taurat, sebatas tindakan humaniora yang tidak memberi kepastian hidup, apalagi hanya sekedar untuk dilihat orang. Pujian dan tepuk tangan memang akan kita peroleh, tetapi semuanya itu akan dimakan waktu.

Paulus pun menantang orang-orang Galatia yang menyunatkan diri, yang memang sebenarnya bukan soal sunat yang dipersoalkan, tetapi soal keterikatan dengan adat istiadat dan keterpautan dalam aneka kecenderungan insani sebelum mereka mengenal Kristus. Semuanya itu harus ditinggalkan dan hidup baru sebagaimana dikehendak Kristus. Seorang pelajar harus meninggalkan cara hidupnya yang lama, bila memang sudah masuk dalam dunia fakultas sebagai seorang mahasiswa. Dia bukan lagi seorang siswa yang harus dituntun atau bahkan disuap, melainkan seorang mahasiswa yang mandiri dan berkreatifitas.  'Bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih' (Gal 5: 6). Hendakanya kita selalu galau dengan iman kita, sebab tak jarang kita menomerduakannya dalam kehidupan sehari-hari. Mempertanyakan iman berarti sejauh mana selama ini iman kepercayaan kepada sang Empunya kehidupan ini memberi dasar yang kuat dalam mewarnai hidup sehari-hari dan meneguhkan dalam melangkahkan kaki menuju masa depan yang lebih cerah. 'Barangsiapa berkata: aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran' (1Yoh 2: 4)

 

 

 

Oratio :

Yesus Kristus, kami ini sering pamer diri, karena mampu melakukan sesuatu yang baik bagi banyak orang. Kami ingin mendapatkan tepuktangan dan pujian dari banyak orang. Ajarilah kami, ya Yesus, untuk bersikap rendah hati, dan juga mau bertobat dengan benar, yakni dengan berbagi kasih terhadap sesama. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu'.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening