Jumat dalam Pekan Biasa XXXI, 7 November 2014


Fil 3:17 – 4:1  +  Mzm 122  +  Luk 16: 1-8

 

 


Lectio :

Pada suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 'ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.  Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.  Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku?  Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan.  Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.  Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang'.

 

 

Meditatio :

'Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara'.  Tentunya amat kagetlah sang bendahara itu, karena ulah-dirinya yang ternyata telah diketahui oleh sang tuannya. Dia yang biasanya hidup mapan dan nyaman, karena memang itu yang dicarinya, terganggu juga pada akhirnya.  Peristiwa pahit akan segera terjadi pada dirinya.

'Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.  Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka', keluh hati sang bendahara itu. Ia tidak kehabisan akal.  Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: berapakah hutangmu kepada tuanku?  Jawab orang itu: seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: lima puluh tempayan.  Kemudian ia berkata kepada yang kedua: dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: delapan puluh pikul. Itulah yang dibuat oleh sang bendahara itu. Dia memang seorang koruptor hebat. Sang tuan yang mendengar langsung aneka peristiwa yang dibuatnya itu, malahan  memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik.  Inilah hidup yang penuh tantangan. Inilah perjuangan seseorang untuk tetap bertahan hidup. Perjuangan hidup patut diacungi jempol, walau memang harus ditegur juga karena kecurangannnya itu. Dia ingin hidup!

'Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang', tegas Yesus. Tentunya demikian juga hendaknya dalam mengejar keselamatan. Saya harus hidup dan saya harus selamat. Pintu sesak pun harus aku lalui untuk dapat masuk dalam Kerajaan dan hidup bersamaNya.

Apakah kita harus berjuang seperti mereka? Ya benar, kita harus berjuang dan berjuang seperti mereka agar kita hidup. 'Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi'. Kiranya perkataan Paulus ini tidak dikenakan kepada kita. Sebab memang kita bekerja dan bekerja, kita mencari nafkah. Namun pikiran dan hati kita tidak sampai terbenam dalam arus dunia ini mengalir. Mengapa? Karena memang kita bangga sebagai murid-murid Kristus. 'Bukankah kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,  yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya?' (Fil 3: 17-2). Kiranya kesadaran ini selalu bergema dalam hidup kita.

 

 

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus Kristus, dampingi dan teguhkan kami dalam perjuangan hidup ini, agar selalu mengutamakan Engkau demi menuju kemuliaanMu dengan melakukan apa yang Engkau sendiri ajarkan pada kami. Kuasilah kamia juga dengan Roh KebijaksanaanMu. Amin

 

 

 

Contemplatio :

 

'Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang',

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening