Jumat dalam Pekan Biasa XXXIV, 21 November 2014

Why 10: 8-11  +  Mzm 19  +  Luk 19: 45-48

 

 

 

Lectio :

Suatu hari ketika Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."  Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

 

 

 

Meditatio :

Suatu hari ketika Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ. Yesus marah terhadap mereka. Bagaimana kemarahanNya tidak diceritakan. Apakah seperti yang diceritakan Yohanes dengan membuat cambuk dan menumbangkan meja-meja para penukar uang (Yoh 2)? Yesus marah, karena 'rumah-Ku yang adalah rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun'. Tempat pertemuan umat dengan Tuhan Allah dijadikan tempat yang sungguh-sungguh berlawanan dengan maksudnya, yakni kumpulan sarang penyamun; di mana di situ tentunya ada mafia dan aneka kejahatan. Rumah untuk berdoa digunakan untuk tindak kejahatan. Siapa di antara kita yang setuju akan hal itu? Yesus Tuhan menghendaki agar rumah doa dijadikan benar-benar  tempat pertemuanNya secara istimewa dengan umat yang dikasihiNya.

Tiap-tiap hari Yesus mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.  Terjadi pertentangan antara mereka yang mendengarkan Dia, sang Empunya kehidupan dengan mereka para terhormat yang menduduki kursi Musa. Lucu memang. Seharusnya mereka para ahli Taurat dan para imam yang tahu banyak tentang kitab suci seharusnya berdiri di bagian depan dalam mendengarkan sabda dan kehendak Tuhan, malahan sebaliknya. Bukankah mereka bangsa terpilih, umat Allah yang kudus? Allah yang mahakasih ditolak oleh orang-orang yang dikasihiNya.

Kita tentunya orang-orang yang pro terhadap pengajaran Yesus, sang Guru. Kita pun sudah mengerti kalau sabda Tuhan memang tidak selalu menenangkan hati dan menggembirakan jiwa. Seperti pengalaman Yohanes sendiri: sabda Allah itu pahit di perut;  kendati demikian Yesus mempercayakan penyampaian sabda dan kehendak kepada semua orang. 'Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja' (Why 10). Kita dipanggil dan diutusNya.

 

 

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus Kristus, kuduskanlah kami semua yang telah Engkau jadikankan baitMu yang kudus. Semoga hidup kami menjadi tempat kehadiranMu sendiri, sehingga kami makin hari semakin berkenan kepadaMu.

Santa Maria, doakanlah kami, Amin

 

 

 

Contemplatio :

'Rumah-Ku yang adalah rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun'.

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening