Minggu Adven I, 30 November 2014

Yes 64: 3-8  +  1Kor 1: 3-9  +  Mrk 13: 33-37

 

 

Lectio :

Pada saat itu Yesus bersabda kepada para muridNya: 'hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.  Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga.  Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta,  supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur.  Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!'.

 

 

Meditatio :

'Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba'. Penegasan Yesus kepada para muridNya untuk selalu dalam kondisi berjaga. Sedia payung sebelum hujan adalah sebuah sikap seseorang yang siap menghadapi kenyataan hidup, walau tidak sesuai dengan kemauan dirinya. Orang yang selalu berjaga itu 'sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga'.  Orang yang berjaga adalah dia yang bertanggungjawab atas tugas yang dipercayakan kepadanya.  'Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta,  supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur'. Orang yang selalu berjaga akan mendapatkan pujian, sebaliknya mereka yang tidak bertanggungjawab akan mendapatkan hukuman.  

'Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!'. Mengapa setiap orang harus selalu berjaga? Bukankah akhir jaman itu masih jauh? Bukankah kita juga tidak tahu saat dan waktunya? Kelemahan kita yang tidak tahu datangNya Anak Manusia hendaknya tidak membuat kita lengah. Allah tidak menuntut tebalnya kualitas keberjagaan diri kita. Yesus tidak memasang target, tetapi sebaliknya Yesus juga tidak meminta kita berleha-leha menantinya. Sejauh kita berjerih payah berusaha agar hidup sebagaimana dilakukan bendahara yang tidak jujur, demikian juga kita dalam mengejar keselamatan (Luk 18: 1-8). Keberanian seseorang untuk selalu berjaga menandakan bahwa dia adalah orang yang selalu siap sedia memberi pertangunganjawab atas hidupnya (Rom 14).

Bagaimana bila memang hari kedatanganNya itu berlaku hanya untuk kita pribadi?

Paulus mengingatkan: 'kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus' (1Kor 1: 7-8). Paulus mengingatkan demikian, karena ternyata memang banyak karunia yang telah kita peroleh.  Apakah Paulus telah membaca kita Yesaya sebelumnya, bahwasannya:  'Allah itu menyongsong mereka yang melakukan yang benar dan yang mengingat jalan yang Kautunjukkan'  (64: 5), sehingga dia menyatakan hal itu kepada umat di Korintus?  Keberanian kita mempertanggungjawabkan segala pemberianNya membuat kita menjadi orang-orang yang layak di hari kedatanganNya, karena Dia sendiri akan meneguhkan dan menguatkan kita. Inilah bukti bahwasannya iman itu berasal dari atas, dan sekaligus mengarahkan kita kepada Dia sang Pemberi hidup,  karena karya kasih Allah itu selalu memenuhi dan menyempurnakan kita umatNya. Dia membuat kita baik adanya.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar semakin berani dan bertanggungjawab dengan segala tugas yang Kau percayakan kepada kami, agar kelak kami kedapatan tetap setia melakukan kehendakMu. Amin

 

 

Contemplatio :

'Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba'.

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening