Rabu dalam Pekan Biasa XXXI, 5 November 2014


Fil 2 : 12-18  +  Mzm 27  +  Luk 14: 25-33

 

 

 

Lectio :

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:  "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.  Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?  Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,  sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.  Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.  Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

 

 

Meditatio :

'Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku', kata Yesus kepada orang-orang yang mengikutiNya. Entah darimana mereka semua, tetapi mereka sengaja datang hendak mendengarkan sabdaNya dan mengikutiNya. Kalau Yesus tidak diutamakan dalam hidup seseorang, dia tidak layak menjadi muridNya. Yesus harus nomer satu dalam hidup seseorang untuk dapat menjadi muridNya. Persaudaraan dengan sesama amatlah penting, apalagi kita yang terikat dalam persaudaraan keluarga, yang sangat dipengaruhi emosi diri, tetapi kiranya semua itu tidak boleh mengabaikan dan menyisihkan cinta kepada Kristus sang Empunya kehidupan.

'Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku', tambah Yesus. Bukan saja menomerdatukan Dia, sang Penyelamat, tetapi juga harus berani memanggul salib kehidupan sebagaimana Kristus sendiri telah memberi contoh dalam memanggul salib kehidupan. Memanggul salib memungkinkan setiap orang untuk siap ditarik oleh Dia yang bergantung di salibNya yang kudus, sebab memang hanya melalui salib kehidupan  sehari-hari, seseorang dapat sampai pada kemuliaan bersamaNya.

'Siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?  Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,  sambil berkata: orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.  Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian'. Sebuah perumpamaan yang meminta kita untuk memikirkan lebih dahulu dalam mengikuti Kristus Tuhan. Mampu atau tidak mengamini kehendak dan kemauannNya? Mengikuti Yesus berarti meninggalkan yang lain, dan hanya memiliki Dia.  'Jika tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku'. Kaulah Segalanya bagiku, dan tidak ada yang lain. Berkat pengenalanku akan Kristus, segala-galanya kuanggap sebagai sampah, kata Paulus yang berani memberi perhatian utama kepada Kristus dalam hidupnya.

Berani kita bersikap seperti Paulus dalam mengamini sabda dan kehendakNya? Beranikah kita mengutamakan segala-galanya? Mengutamakan Kristus tidaklah mengabaikan keperluan dan aneka kegiatan yang telah kita miliki. Mari kita berusaha. 'Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,  supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,  sambil berpegang pada firman kehidupan' (Fil 2: 14-16) .

 

 

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus Kristus, bantulah kami dalam memanggul salib hidup ini, sebab tak jarang kami ingin melemparkannya, malah tak jarang membebankannya kepada orang lain, yang ada di sekitar kami.

Yesus bantulah kami dalam mengutamakan Engkau dalam keseharian hidup ini.

 

 

 

Contemplatio :

 

'Jika tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku'.

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening