Rabu dalam Pekan Biasa XXXII, 12 November 2014


Tit 3: 1-7  +  Mzm 23  +  Luk 17: 11-19

 

 

 

Lectio :

Suatu hari dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.  Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh  dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"  Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.  Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,  lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.  Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?  Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"  Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

 

 

Meditatio :

'Yesus, Guru, kasihanilah kami!', teriak  sepuluh orang kusta yang bertekad hendak menemui Dia. Namun mereka tahu diri, mereka tinggal berdiri agak jauh  dan  tidak berani memberanikan diri untuk mendekat. Mereka sadar bahwa diri mereka adalah orang-orang najis, orang-orang kotor yang memang harus dijauhi oleh banyak orang. Mereka yang memang lebih baik menjauhkan diri, supaya tidak menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Apakah sebenarnya lebih baik dan mungkin lebih sopan, kalau mereka mendekatkan diri dan merunduk di hadapan Yesus? Bukankah perempuan berdosa yang sudah terkenal di sebuah kota pernah datang kepada sang Guru, dan langsung membasuh kaki Yesus dengan minyak (Luk 7: 38-50)? Kita mempersoalkannya memang.

'Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam', sahut Yesus kepada mereka. Yesus pun tidak memanggil mereka supaya mendekat. Yesus tahu kelemahan dan keterbatasan mereka. Yesus tidak menyembuhkan mereka, malahan meminta mereka pergi kepada para imam untuk memperlihatklan diri. Memperlihatkan apa? Bukankah diri mereka adalah najis? Apa yang harus diperlihatkan? Para imam tentunya sudah tahu mereka adalah orang-orang najis. Dan anehnya, mereka pun langsung pergi juga. Mereka tidak protes kepada Yesus mengapa tidak dilimpahkan belaskasih dan penyembuhan, malah disuruhNya pergi. Mereka tidak protes. Mereka adalah orang-orang yang percaya!  Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.  Mukjizat itu ada! Mereka sembuh! Puji Tuhan Alleluya, Alleuya. Mungkin seruan itu yang mereka lambungkan, dan tentunya rahmat kesembuhan mereka membuat mereka semakin cepat berlari menjumpai para imam. Apakah mereka tidak berganti pakaian dulu? Bukankah pakaian mereka bau dan compang-camping?

Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,  lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.  Hanya seorang yang kembali, dan itu adalah orang Samaria, dan bukannya orang-orang Yahudi, yang mengaku bangsa yang terpilih, umat Allah yang kudus. Apakah mereka tidak berembuk dulu di tengah jalan sebelum meneruskan perjalanan? Para imam yang memang memberi legitimasi seseorang sehat atau tidak, seseorang sembuh kembali atau tidak,dan bukannya seorang guru. Bukankah mereka semua memang disuruh oleh sang Guru pergi kepada para imam?  

'Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?  Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?, kata Yesus kepada banyak orang yang mengikutiNya. Yesus sepertinya memang menghendaki agar kita selalu berani bersyukur kepada Tuhan sang Empunya kehidupan daripada mengikuti aturan yang dibuat oleh umatNya sendiri. Tuhan harus dinomersatu dalam hidup ini. Pertanggungan jawab memang harus diberikan kepada Allah, dan bukannya kepada manusia. Bukankah Allah yang memberi kehidupan?

Kesepuluh orang kusta berani datang kepada Yesus dan memohon kesembuhan, karena mereka mempunyai iman kepercayaan kepada sang Guru. Iman kesembilan orang itu telah memberikan kesembuhan, sedangkan pada orang satu ini, iman memberi keselamatan. 'Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau', kata Yesus kepadanya. Satu orang ini mendapatkan tambahan rahmat, karena berani datang kembali kepada sang Pemberi kesembuhan. Dia berani mengutamakan Yesus Kristus dalam hidupnya.

 

 

 

Collatio:

Kita memang bukanlah orang-orang yang dahulu pernah menderita sakit kusta. Namun tak dapat disangkal, kita menikmati kasihNya yang melimpah. 'Ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian, kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,  yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,  supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita' (Tit 3: 4-7). Kata-kata Paulus inilah yang memang juga harus kita ucapkan dalam keseharian hidup kita. Karena apa? Karena kita telah beroleh rahmat penebusan terindah dalam hidup ini berkat kematian dan kebangkitan Kristus, berkat sakramen baptis yang kita terima. Kita menerima keselamatan, karena kebaikan Allah sendiri dan bukan jasa-jasa kita. Minimal kalau kita mau memperhitungkannya, kita mendapatkan keselamatan itu karena kita mau menyatukan diri dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Namun apalah arti keberanian kita, bila dibandingkan dengan karya penebusan Kristus? Bukankah 'damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal  memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus' (Fil 4: 7)?

Baiklah kita menjadi orang-orang yang tahu berterima kasih. Sebab keikhlasan kita dalam melambungkan pujian dan syukur kepada Allah sunggguh-sungguh meringankan jiwa dan raga kita. Orang yang tahu berterimakasih adalah orang-orang yang membiarkan diri terus-menerus mendapatkan berkat dari Allah.

 

 

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus Kristus, tambahkanlah iman kami kepadaMu, agar kami tidak hanya bisa bersyukur dengan mulut, tapi dengan hati yang tulus memuji dan memuliakan Engkau. 

Santo Yosafat doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio :

 

'Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,  lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya'.

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening