Sabtu dalam Pekan Biasa XXXI, 8 November 2014


Fil 4: 10-19  +  Mzm 112  +  Luk 16: 9-15

 

 


Lectio :

Pada suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 'Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi. Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.  Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia.  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah".

 

 

Meditatio :

'Aku berkata kepadamu: ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi'.  Apakah yang dimaksudkan Yesus dengan penyataanNya ini? Bersahabat dengan mammon yang tidak jujur? Mengapa sudah tidak jujur, kita masih diminta bersahabat dengan dia? Bukankah kita tidak boleh menjadi sama seperti dunia? Apakah artinya persahabatan? Bukankah persahabatan itu harus sejati, dan bukannya pura-pura? Memang tak dapat disangkal, segala yang fana harus kita tinggalkan untuk menikmati kemahNya yang kudus dan abadi itu?

'Jikalau kamu tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?'. Jelaslah apa yang dikatakan Yesus tadi, bahwasannya pergaulan dengan mammon yang tidak jujur dimaksudkan adalah persoalan hidup sehari-hari. Kita diminta setia dalam menanggapi persoalan hidup sehari-hari. 'Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar; dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar'. Persoalan hidup memang bukan hanya sebatas soal makan dan minum, sandang dan papan. Hidup lebih dari kebutuhan dasar manusia. Memang kalau mengatur kebutuhan pokok dan mendasar saja kita sudah kelabakan dan koruptif,  bagaimana kita menghadapi persoalan hidup yang lebih besar?     

'Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon'.  Kita tidak dilarang mencari nafkah hidup, dan jangan sampai kita berkekurangan. Namun kiranya tidak mengalihkan perhatian hidup kita ini pada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan. Sebab bukankah kita harus mempertanggungjawabkan seluruh hidup kita ini kepada Tuhan (Roma 14)? Pergaulan dengan mammon tak jujur perlu ditindaklanjuti dalam hidup ini, kita memang membutuhkannya, tetapi kita harus mampu menguasai mereka, dan bukannya mereka menguasai kita. Kita dikuasai oleh mammon, ketika saat kita berkata bahwa kita tidak mempunyai kesempatan untuk keluarga, menikmati alam semesta, aneka keperluan kedua dalam hidup, pergaulan dengan sesama, dan terlebih-lebih tidak ada waktu untuk berdoa dan mendengarkan sabdaNya.

'Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku' (Fil 4 10-12). Pernyataan Paulus sebenarnya mengatakan bahwa kekayaan dan kemiskinan tidak menjadi persoalan bagi dirinya. Mengapa kita harus kuatir? Adakah kekuatiranmu akan menambah sehasta hidupmu? Jika aku lemah, aku kuat,  tegas Paulus. Karena dia adalah sebuah profil seseorang yang mengandalkan kekuatan hanya dalam Tuhan. Pengenalannya akan Yesus membuat segala-galanya terasa indah dalam hidupnya.

Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia.   Memang mereka dikecam habis-habisan oleh Yesus, karena kemunafikan hidup mereka. Mereka hanya mencari kepuasan dan kenyamanan diri. Kemunafikan diri inilah yang menutup mereka dalam mencari keuntungan diri dalam hidup bersama. Mereka tentunya berbalik mencemooh Yesus, karena memang sepertinya kena tohok dengan pelbagai pengajaran Yesus, sang Guru dari Nazaret itu. Lalu Yesus berkata kepada mereka: 'kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah'. Banyak orang kagum dengan kemunafikan mereka, sebab memang mereka tidak tahu kemunafikan kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat, karena mereka sedang duduk di kursi Musa dalam tradisi religi. Namun Allah yang tahu isi hati umatNya, mengecam keras kemunafikan mereka. Sebab mereka tidak mencari Allah dan kebenaranNya, melainkan mencari kepuasan diri.

 

 

 

 

Oratio :

 

Yesus Kristus, mampukan kami untuk setia dalam setiap hal, khususnya hal-hal yang kecil dalam hidup kami, terlebih lagi dalam mendengarkan sabdaMu dan setia melakukannya. Seba hanya dalam namaMu, kami beroleh selamat. Amin

 

 

 

Contemplatio :

'Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar; dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar'.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening