Sabtu dalam Pekan Biasa XXXIV, 22 November 2014


Why 11: 4-12  +  Mzm 144  +  Luk 20: 25-40

 

 

 

Lectio :

Suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:  "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.  Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.  Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua,  dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak.  Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."  Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.  Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.  Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."  Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali."  Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

 

 

Meditatio :

'Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu'. Itulah sebuah pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Saduki, yang tidak mempercayai adanya kebangkitan. Sebuah pertanyaan yang menegaskan betapa kuatnya system patriakal di jaman itu. Keluarga laki-laki memegang kendali dalam aturan kehidupan rumah tangga. Minimal, seorang perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya dia tidak boleh bersuami dengan lelaki lain, karena dia memang sepertinya menjadi milik dari keluarga mantan suaminya yang telah meninggal itu. Perempuan itu tidak bebas dari ikatan mantan suami, melainkan tetap ada kepemilikan dari pihak laki-laki, malah kalau tidak meninggalkan keturunan seorang pun.  

'Ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.  Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua,  dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak.  Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia'. Sebuah pertanyaan yang amat logis dan masuk akal. 'Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan', sahut Yesus menanggapi pertanyaan mereka. Hidup setelah kematian, hidup dalam dunia kebangkitan amatlah berbeda dan memang tidak sama dengan hidup di dunia ini. Dalam kemuliaan, tidak ada lagi perkawinan,  'sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan'. Perkawinan adalah salah satu cara menjaga keberlangsungan hidup. Kehidupan diperpanjang dan akan terus menerus menyambung bila dikendalikan dengan adanya perkawinan. Kelahiran seorang anak di tengah-tengah keluarga melanggengkan kehidupan. Yang satu mungkin berakhir dengan kematian, tetapi yang lain menjaga keberlangsungan hidup dengan kehadiran mereka yang muda, yang ada karena perkawinan. Ketidakabadian atau kefanaan manusia yang menuntut setiap orang untuk menjaga keberlangsungan hidup; tetapi tidaklah demikian dengan mereka para malaikat dan tentunya anak-anak Allah, yakni para kudus yang menikmati kemuliaan surgawi.  

'Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup'.  Di hadapan Tuhan Allah sang Empunya kehidupan semua orang hidup, karena semua orang dibangkitkan. Kalau Paulus mengatakan bahwa Allah kita adalah Allah atas orang hidup dan atas orang mati, karena memang semua orang, seluruh umat manusia adalah milikNya. Kita melihat dan merasakan keberadaan orang-orang mati, tetapi Allah telah menghidupkan mereka dan memanggil mereka untuk hidup dalam persekutuan kudus, tentunya hanya mereka yang mau mengamini kehendakNya, yakni mereka yang mau beroleh keselamatan bersamaNya.

'Guru, jawab-Mu itu tepat sekali',  sahut para ahli Taurat, karena memang mereka itu pandai dalam hal kitab suci, dan mereka benar-benar memahami akan kebangkitan hidup yang dberikan oleh Allah semenjak semula. Kebangkitan dan hidup adalah tema sentral semenjak Perjanjian Lama. Contoh konkrit adalah Ayub, seorang yang tahu apa artinya menderita dan dalam hidup ini. Ia tetap percaya bahwa Penebusku hidup, dan aku akan dibangkitkan kelak (Ayb 19: 25). Iman kepercayaan Israel, umatNya yang kudus telah mempercayai hal ini. Jawaban Yesus menjawabi persoalan mereka,  sebab itu mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

 

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus Kristus, tambahkanlah iman kami akan kebangkitan, bahwa kelak kami boleh menikmati kemuliaan surgawi bersama para kudusMu; dan semoga kerinduan itu terjabarkan juga dalam segala karya pelayanan kami sehari-hari.

Santa Sesilia, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio :

'Mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan'.

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening