Selasa dalam Pekan Biasa XXXII, 11 November 2014

Tit 2: 1-8.11-14  +  Mzm 37  +  Luk 17: 7-10

 

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!  Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.  Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?  Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

 

 

Meditatio :

'Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: mari segera makan!  Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: sediakanlah makananku dan ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum; dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.  Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?'. Bagus kali perumpamaan ini. Adakah kewajiban seseorang tuan berterima kasih kepada para hambanya? Adakah hak para hamba untuk mendapatkan terima kasih dari tuannya?  Kiranya sudah tahu kedudukan mereka masing-masing? Ada baiknya bila sang tuan berani mengucapkan terima kasih kepada mereka?  Kiranya sang tuan juga harus berani memberikan hak para hambanya, minimal mereka memberikan upah yang layak untuk hidup mandiri sebagai ciptaanNya.

'Demikian juga kamu, apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan'. Sebuah sikap rendah hati dan penuh kejujuran oleh seorang yang aktif dalam karya pelayanan kasih. Sikap ini dapat diberikan hanya oleh mereka, yang melakukan segala-galanya dengan penuh kasih, dan bukannya sebagai beban yang harus dipikulnya. Mungkin memang, awal cerita pengalaman hidupnya bukan sebagai sebuah pilihan, tetapi sebuah kepercayaan yang diberikan oleh orang lain pada dirinya, tetapi kepercayaan itulah sebuah bukti pengakuan dari banyak orang bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang baik dan indah bagi sesama.

Yesus sendiri, yang adalah Putera Allah yang hidup dengan rendah hati mengosong diri, dan mengambil rupa seorang hamba; dalam karyaNya, Yesus selalu menegaskan Aku hanya melakukan kehendak Bapa yang mengutus Aku. Kejujuran dan kepatuhan diri memang amatlah berharga dalam hidup ini. Mungkin ada banyak hal yang bisa kita lakukan, tetapi bila kita terlalu berani melebar dan meluas, kaburlah apa yang menjadi tugas perutusan pribadi yang dipanggilNya sesuai dengan nama kita masing-masing. Bukankah Dia telah memanggil kita dan menganugerahkan pelbagai kasih karuniaNya, agar kita berani membagikannya juga dengan cuma-cuma?  Dan bukankah semuanya itu dikaruniakan oleh Kristus Tuhan untuk pembangunan TubuhNya yang kudus dan lemah itu? 'Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini  dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,  yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik' (Tit 2: 11-14). Allah memberikan sesuatu kepada kita umatNya sesuai dengan rencana kehendakNya.

Keberanian seseorang untuk berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan, menunjukkan bahwa dia memang adalah seorang pelaku sabda, dan bukan hanya seorang pendengar yang seringkali menipu diri. Maria, semenjak menerima kabar sukacita, memang adalah seorang panutan bagaimana menjadi seorang pendengar yang sekaligus pelaksana sabda yang setia.

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus Kristus, jadikanlah kami pelaku sabdaMu, yang dengan kerendahan hati dan penuh kejujuran dalam pelayanan di manapun kami berada; sehingga pada akhirnya kami menemukan Engkau sendiri dalam diri mereka yang kami layani.

Santo Martinus, doakanlah kami. Amin

 

  

Contemplatio :

'Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.'

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening