Senin dalam Pekan Biasa XXXII, 10 November 2014


Tit 1: 1-9  +  Mzm 24  +  Luk 17: 1-6

 

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.  Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.  Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."  Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"  Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

 

 

Meditatio :

'Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya', tegas Yesus yang sungguh-sungguh menyadari realitas para muridNya. Yesus sadar sungguh roh jahat masih sempat merasuk dalam diri orang-orang yang dikasihiNya. Karena itu, ada kesempatan dan peluang dari para muridNya melakukan penyesatan seorang terhadap yang lain, tetapi celakalah orang yang mengadakannya . 'Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini'. Keras kali penyataan Yesus ini. Tidak adakah pengampunan? Tidak adakah kasih? Mengapa Yesus begitu geram terhadap mereka yang mengadakan penyesatan? Sebab seperti yang dikatakan Paulus kemarin, 'jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu' (1Kor 3: 17). Perlawanan terhadap umat milik Allah tidak ubahnya perlawanan terhadap Allah sendiri. Hal itu juga pernah disampaikan Yesus sendiri kepada Paulus yang tengah gencar membinasakan Gereja perdana.

Sekali lagi, tidak adakah pengampunan dan kasih? Ada. Sebab Allah adalah Kasih. Karena itu,  'jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia; bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: aku menyesal, engkau harus mengampuni dia'.  Kasih mengatasi segala sesuatu, tegas Paulus juga; dan bukankah Yesus juga pernah mengatakan: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuhpuluh kali tujuh kali kamu harus mengampuni sesamamu. Boleh dikatakan adanya penyesatan adalah sebuah dosa yang memang harus mendapatkan hukuman, mendapatkan teguran, tetapi kiranya bila dia dengan jujur berani mengakui dan kembali kepada kebenaran yang diwartakan Allah, maka kasih Allah akan menyelamatkan. Kalau Allah mau menyelamatkan umatNya, mengapa kita orang-orang yang dikasihiNya tidak mau meneladan Dia.

Kasih dan pengampunan adalah awal setiap orang untuk berani melihat sesamanya yang bersalah sebagai orang yang patut dikasihinya. Bukankah Yesus juga merangkul para pemungut cukai dan para pendosa? Kasih dan pengampunan akan mengkondisikan seseorang menjadi 'suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri  dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya' (Tit 1: 8-9). Mereka yang menentang, dan mereka yang mulai berkhianat dan menyesatkan, tetap harus diajak dan diundang kembali kepada Allah. Yesus yang tahu Yudas Iskariot, tetap diajakNya dalam perjamuan. Kasih menutupi segala sesuatu, kasih menyelamatkan.

'Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu', tambah Yesus. Sebuah penyataan yang menegaskan betapa hebatnya kekuatan iman seseorang. Iman mampu menyelesaikan segala yang di luar kemampuan insani; dan lebih itu, iman mau menyelamatkan setiap orang yang percaya kepadaNya. Iman membuat segala-galanya baik adanya. Iman itulah juga yang mampu membuat orang untuk berani mengampuni sesamanya, sampai berapa kali pun orang itu berkata  menyesal dan menyesal . Iman dan kasih tak bisa dipisahkan satu sama lain.

 

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus Kristus, teguhkan dan tambahkanlah iman kami, agar kami mampu mengatasi segala kesulitan, terutama mampu dan berani mengampuni mereka yang bersalah pada kami.  Tampakkanlah kasihMu lewat diri pada sesama kami, sebagaimana diteladankan oleh santo Leo Agung. Amin.

 

 

 

 

Contemplatio :

 

'Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu'.

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening