Hari Kelima dalam Oktaf Natal

29 Desember 2014

1Yoh 2: 3-11  +   Mzm 96  +  Luk 2: 22-35

 

 

 

Lectio :

Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,  seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",  dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.  Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,  dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.  Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,  ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:  "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,  sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,  yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,  yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."  Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.  Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan,  dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang".

 

 

Meditatio :

Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, Yusuf dan Maria membawa sang Buah hati ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan. Maria dan Yusuf melakukan sesuatu yang baik, sebagai tanda ucapan syukur seorang yang percaya kepada Tuhan sang Empunya kehidupan. Ada rasa syukur dan terima kasih yang dilambungkan kepada Tuhan. Mereka tidak cukup mempersembahkan di sinagoga, di tempat di mana mereka berada, melainkan di bait Allah yang ada di Yerusalem. Semuanya itu juga dilakukan oleh keluarga berbahagia ,  sebagaimana  tertulis dalam hukum Tuhan: 'semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah'. Tuhan yang telah memberi. Tuhan yang mengambil. Terpujilah Dia selama-lamanya (Ayb ). Memang tak dapat disangkal bahwa Yesus adalah anak laki-laki sulung, dan sesudah itu Dia tidak mempunyai adik, karena memang Dia adalah anak tunggal pasutri Yusuf dan Maria, sebagaimana Anak tunggal Bapa.

Ada di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,  dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.  Orang kudus memang Simeon ini, karena Roh Allah sendiri yang ada di dalam diriya. Ia adalah orang kudus, karena Mesias menjadi jaminan hidupnya.  Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Hidupnya benar-bnar dibimbing oleh Allah. Dia pendengar sabda dan berani melaksanakannya. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,  ia menyambut Anak itu. Dengan mudahnya dia tahu Anak  mana yang harus disambutnya.  Orang yang mengikuti kehendakNya akan banyak mengetahui aneka hal dengan baik.  

Sambil menatang-Nya, dia memuji Allah, katanya:  'sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,  sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,  yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,  yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel'. Simeon sepertinya menagih janji, tetapi lebih dari itu, dia bersyukur dan bersyukur kepada Allah, karena dengan mata kepalanya sendiri dia melihat dan menjumpai Dia yang dirindukan oleh para nabi semenjak dahulu kala. Kedatangan sang Bayi ini adalah kepastian bagi banyak bangsa tentang keselamatan yang hendak disampaikan Allah. Sebab Bayi yang lahir ini adalah Sang Peneyalmat. Bayi ini menjadi kemuliaan bagi Israel, karena memang Israel adalah bangsa yang terpilih, umat pilihan Allah, bangsa yang kudus. Sungguh, 'keselamatan datang dari bangsa Yahudi' (Yoh 4: 32). Bahkan bangsa-bangsa kafir mengakui: sungguh agung karya Tuhan mereka (Mzm).  Kehadiran sang Al Masih mengingatkan dan menyadarkan mereka semua.

'Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia'. Bahasa Simeon adalah bahasa orang kudus, dia berucap dengan menggunakan bahasa Allah. Yusuf dan Maria ikut berbangga dengan Anak yang ada dalam keluarga mereka. Mereka heran, dan hanya mampu mengamini apa yang dikatakan Simeon, orang kudus itu. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: pertama, 'sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan'. Mengapa? Karena semenjak kehadiranNya akan terjadi perlawanan yang satu dengan lainnya. 'Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,  dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya' (Mat 10: 35-36). Yesus secara sengaja melakukan semuanya itu. Karena namaKu, kamu akan dibenci banyak orang. Pertentangan terjadi karena  'Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang' (Yoh 3: 19).

Kedua, 'suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang'. Suatu bahasa Allah yang harus disampaikan oleh Simeon kepada Maria, walau amat pahit rasanya. Sabda Tuhan memang tidak selalu manis dan enak didengar. Maria harus bergembira dan bersukaria memang dalam menerima sang Buah hati ini, tetapi tak dapat disangkal, akan datang pelbagai tantangan yang benar-benar mengancam jiwanya. Anak ini benar-benar makan hati bagi sang ibu. Namun semuanya itu akan membuka mata hati setiap orang, bahwa menerima Yesus itu bukan dengan tepuk tangan, melainkan siap menyangkal diri dan memanggul salib kehidupan. Menerima Yesus berarti hidup seperti Dia yang kita terima itu. 'Inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.  Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup' (1Yoh 2: 3.6).

 

 

 

 

Oratio :

            

  Ya Yesus Kristus, Engkaulah keselamatan bagi seluruh bangsa. KehadiranMu membuka mata hati banyak orang, bahwa mengikuti Engkau adalah sebuah pilihan yang harus dipertanggungjawabkan. Bantulah kami dengan kasihMu sendiri, agar kami kedapatan setia dalam mengikuti Engkau. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan'.

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening