Hari Raya Santa Maria dikandung tanpa noda dosa, 8 Desember 2014

Kej 3: 9-15  +  Ef 1: 3-6  +  Luk 1: 26-38

 

 

 

Lectio :

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,  kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.  Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.  Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.  Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."  Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"  Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.  Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."  Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

 

 

 

Meditatio :

'Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau'. Inilah kemauan Tuhan Allah, sang Empunya kehidupan, terhadap seorang perempuan sederhana. Sekali lagi, 'jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah'. Allah benar-benar menghendaki Maria beroleh rahmatNya yang sunguh-sungguh indah itu.  'Sungguh engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi; dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan'. 

'Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?', sahut Maria menyampaikan hak jawabnya. Itu baik memang bagiMu, tetapi bagaimana semuanya itu itu harus terjadi, karena bertentangan dengan hokum kodrat, yakni dia belum bersuami, Maria adalah seorang yang masih perawan; dan juga berlawanan dengan hulum social dan moral, bagaimana dia boleh mengandung dan melahirkan seorang anak tanpa adanya seorang laki-laki sah sebagai suami. Apa kata dunia?

'Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.  Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil'. Malaikat memberikan pertimbangan dan sekaligus menunjukkan betapa besar kemauan dan kemampuan Allah terhadap ciptaanNya itu; baik adanya; bahkan  'dalam kasih Allah  telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya', (Ef 1: 5) dan lebih dari itu 'Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya' (Kej 3: 15) adalah sebuah penyataan Allah yang dikenakan pada Maria. Sekali lagi itu semua adalah kehendak Allah kepada umatNya yang dinyatakan dalam dan melalui Maria.

Apakah itu takdir? Bukan! Karena memang adalah kehendak setiap orang untuk selalu berani mengamini kehendak sang Pencipta. Akal budi dan kehendak bebas setiap pribadi berhak menjawab sesuai dengan suara hati mereka. Bukankah Yudas Iskariot juga terpilih semenjak semula, tetapi tidak mau merasakan menikmati keterpilihannya? Begitu pula semenjak awal Kain pun diminta menjaga dan melindungi adiknya, Habel?

'Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu' adalah sebuah jawaban Maria. Sebuah jawaban iman yang diberikan  Maria, karena kehendak dan kemauan Tuhan pada dirinya. Ketidak-mengertian dalam memahami kehendak Tuhan tidak memupuskan semangatnya untuk mengamini kehendak sang Pencipta. Apakah kita tidak  boleh mengatakan bahwa Allah memang telah bekerja dalam diri Maria semenjak semula? Tidak dapat disangkal juga, Maria terkandung dalam keadaan suci, bukankah Allah menghendakinya? Maria sepertinya membiakrna dirinya dikasihi Allah, karena memang dia pun selalu berusaha memilih yang terbaik bagi dirinya, yang tidak akan diambil daripadanya. Bagian yang terbaik itu adalah mengamini sabda dan kehendak Tuhan Allah itu sendiri.

 

 

 

Oratio :

 

Ya Yesus Kristus, dampingilah kami selalu dengan Roh KudusMu, agar kami selalu siap mengamini sabda dan kehendakMu, terlebih guna menjawabi kerinduan hati kami akan kedatanganMu yang menyelamatkan, yakni membawa mahkota kehidupan.

Santa Maria, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau'.

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening