Minggu dalam Pekan IV, 21 Desember 2014

2Sam 7: 1-5  +  Rom 16: 25-27  +  Luk 1: 26-38

 

 

 

Lectio :

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,  kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."  Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.



Meditatio :

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,  kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Mengapa harus di bulan ke enam? Apakah supaya ada kelanjutan dari peristiwa Elizabet yang memang tidak menampakkan diri selama lima bulan? Maria langsung menjadi tujuan kunjungan malaikat, tentunya semuanya ini menunjukkan bahwa Allah sudah merencanakan Maria jauh-jauh sebelumnya untuk dipilih Allah dari semula.

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Maria kaget memang amat wajar dan lumrah. Mulai kapan dia menjadi orang yang dikarunia? Apakah Maria sudah merasakan sungguh bahwa dirinya sebagai orang yang dikaruniai? Apalagi sekarang Tuhan menyertai dirinya. Indah sekali rencanaMu Tuhan.

        "Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel ". Apakah Maria pernah membaca teks kitab nabi Yesaya ini? Namun tak dapat disangkal, Allah sendiri akan memenuhi janjiNya itu. Dia secara sengaja mengutus malaikatNya datang kepada Maria. Allah mempunyai kehendak.

"Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan", kata malaikat itu kepadanya. Jangan takut, karena memang dia akan mendapatkan hal yang baik dan indah. Karunia baru yang akan diterimanya adalah bahwa dia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; suatu karunia yang sulit dimengerti dan bertentangan dengan kodrati seorang manusia.

Kehendak Allah yang ingin melanjutkan rahmat dan kasihNya itu kepada orang-orang yang dikasihiNya itu telah dikumandangkan semenjak Daud. Itulah yang pernah diungkapkan Allah sendiri melalui nabi Samuel: "Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu.  Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya" (2Sam 7: 14-16). Allah menghendaki semua orang beroleh selamat, sebagai komunitas keselamatan; bukan untuk sekelompok orang tertentu melainkan terbuka bagi setiap orang yang berkehendak baik.

"Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?". Sebuah pertanyaan kritis yang diberikan Maria kepada malaikat agung itu. Seorang isteri wajar memang bila mengandung dan melahirkan seorang anak, karena memang itulah tujuan mereka berkeluarga. Bukankah memang kelahiran seorang anak hanya dapat dimengerti dalam keluarga?

Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah". Maria diminta tidak usah gelisah dan kuatir, karena memang segala yang akan terjadi adalah kehendak Allah sendiri, Roh Allah yang hidup yang akan berkarya dalam dirinya. Kalau Elisabet, sanakmu itu, kini sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu, apalagi engkau yang dikaruniai oleh Allah segala yang indah dan baik adanya. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu", jawab Maria sebagai seorang beriman. Dia menyadari sungguh karunia yang ada padanya. Maria sadar sungguh bahwa segala yang baik itu akan terjadi pada dirinya. Dia tidak menuntut bukti, tetapi semuanya itu bisa terjadi dalam dirinya, karena Allah menghendaki. Dalam berhadapan dengan Tuhan mengamini kehendakNya adalah cara yang paling layak dan pantas, bahkan mendatangkan rahmat dan berkat daripadaNya.

Jawaban Maria memang memberi kepastian, bahwasannya sabda yang selalu disampaikan para nabi kini dinyatakan dan hadir secara kasat mata, 'pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, sekarang telah dinyatakan secara konkrit' (Rom 16: 26). Berkat ketegasan Maria yang siap menerima Allah menjadi manusia. Dia yang adalah sabda kini akan menjadi manusia. Dia yang hanya bisa didengarkan kini akan bisa dilihat, diraba dan dirasakan.



Oratio :

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas kasih karuniaMu bagi kami, kiranya kamipun semakin berani meneladani Maria untuk mengamini   sabda dan kehendakMu. Amin


Contemplatio :

'Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah'





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening