Kamis dalam Pekan Biasa III, 29 Januari 2015


Ibr 10: 19-25  +  Mzm 24  +  Mrk 4: 21-25

 

 

Lectio

Pada suatu kali Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.  Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" 

Lalu Ia berkata lagi: "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.  Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya."

 

 

Meditatio

Pada suatu kali Yesus berkata kepada mereka: 'orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian'. Sebuah perumpamaan yang amat-amat sederhana, dan mudah dimengerti. Adakah yang menolak perumpamaan itu? Pelita sengaja diciptakan untuk membuat terang, sehingga semuanya tampak dengan jelas walau pada saat itu gelap adanya. Pelita menjadikan orang dapat melihat sesuatu dengan baik. Demikianlah, 'tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap'. Rahasia Allah memang dinyatakan untuk semua orang tanpa terkecuali, walau sekarang dikhususkan untuk mereka yang kecil dan rendah hati, karena memang merekalah orang-orang yang sekarang ini merindukannya. Namun tak dapat disangkal, sabda dan kehendak Tuhan harus dinyatakan kepada setiap orang; dan setiap orang akan memahaminya, karena memang rahasia itu disampaikan dan untuk diketahui oleh setiap orang. Karena itu,  'barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!'. Hendaklah setiap orang berani mendengarkan, karena memang ada kemampuan kodrati untuk mendengar. Mereka yang tidak bisa mendengar pun dicarikan cara dan prasarana lain untuk memahami segala yang indah dan baik adanya. 

'Camkanlah apa yang kamu dengar!', tegas Yesus. Hendaknya kita tidak seperti benih yang jatuh di pinggir jalan, atau pun tanah yang berbatu-batu atau penuh dengan semak berduri, sebagaimana kita renungkan kemarin. Telinga adalah berkat Tuhan untuk mampu mendengarkan sabda dan kehendak Allah; dan sabda  disampaikan kepada setiap orang, agar tak seorang pun binasa. Allah menghendaki semua orang selamat.  'Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu'. Keberanian kita mendengarkan dengan baik apa yang menjadi kehendak Tuhan akan mendatangkan rahmat yang berlimpah. Dan tak dapat disangkal, seringkali 'akan ada lain ditambahkan kepadamu'. Keinginan yang sedikitpun, bila memang berani kita panjatkan, akan mendatangkan rahmat dan berkatNya yang melimpah. Ingat, kesepuluh orang kusta, hanya satu yang mendapatkan keselamatan. Ingat  pula, Zakheus yang hanya ingin melihat rupaNya, malahan diminta untuk berani menerima Tuhan Yesus yang hendak bermalam di rumahnya. Benarlah memang,  'siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi', sebaliknya orang yang tidak mau tahu, dia  'yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya'. Ketidakmautahuan orang terhadap keselamatan akan mendatangkan kutuk tersendiri. Sebab tidak mau diselamatkan berati binasa.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus, Engkau membuka tabir kehidupan baru, yang lebih menjanjikan, karena memang Engkau sendiri sang Empunya kehidupan. Ajarilah kami untuk datang kepadaMu dengan hati yang tulus ikhlas dan iman yang teguh, karena memang Engkau telah memurnikan kami terlebih dahulu dengan mengurbankan diri.

Yesus, teguhkanlah iman dan harapan kami, amin.

 

 

Contemplatio

'Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!'.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening