Rabu dalam Pekan Biasa III, 28 Januari 2015


Ibr 10: 11-18  +  Mzm 110  +  Mrk 4: 1-20

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu.  Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: "Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.  Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.  Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.  Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah.  Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat."  Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" 

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.  Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,  supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun."  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?  Penabur itu menaburkan firman.  Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,  tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.  Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Yesus banyak mengajar di pantai danau, dan bahkan memanggil para murid banyak dari kaum nelayan, sebagaimana kita renungkan dalam panggilan para murid kali lalu, karena memang hidup Yesus berada di sekitar danau. Mengapa tidak sesekali Yesus pergi di perbukitan?

'Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!', tegas Yesus setelah menyampaikan perumpamaan. Setiap orang diandaikan mengerti apa yang disampaikan dalam perumpamaanNya. Namun tidaklah demikian dengan pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid, yang benar-benar menunjukan bahwa 'anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang' (Luk 16: 8), mereka datang dan bertanya  tentang perumpamaan itu. Yesus bukannya menegur mereka, malah sebaliknya meneguhkan mereka dengan berkata:  'kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,  supaya: sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun'. Yesus berkata demikian, apakah sembari mengingatkan mereka semua bahwa memang rahasia Kerajaan Allah itu 'disembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi dinyatakan kepada orang kecil?'  (Luk 10: 21). Dan apakah para murid tahu apa yang dimaksudkan Yesus? Yesus memuji bahagia mereka, karena mendapatkan kesempatan memahami rahasia Kerajaan Allah, walau sempat juga menagur mereka mengingat kelambanan mereka dengan berkata: 'tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?'. Allah memang mengasihi umatNya, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk menegurnya. Kasih Allah itu menyelametkan, dan bukannya memanjakan.  Malah sempat kita lihat, kita rasakan dan kita dengar, bahwasannya 'Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak' (Ibr 12: 6).

Penabur itu menaburkan firman. Siapakah Penabur  itu? TUHAN Allah sendiri tentunya yang hadir dalam diri umatNya sendiri.   Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. tanpa perlawanan sedikit pun, karena memang firman yang didengarkan sama sekali tidak meresap dan masuk dalam hati seseorang. Pasti dia mendengar, tetapi tidak mendengarkan. Firman cukup didengarkan; ketika diminta unutk menceritakan kembali tidaklah mampu dia mengutarakannya.  Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,  tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.  Sabda Tuhan tidak menjadi pedoman hidup, sehingga tidak ada yang diharapkan ketika datng aneka tantangan dan perlawanan. Sabda Tuhan yang didengar tidak pernah direnungkan ataupun menjadi bahan doa dalam perjalanan hidup.

Benih  yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Firman Tuhan dan iman kepercayaan bukanlah kekayaan hidup. Sabda cukup didengarkan, dan memang pernah mendengarkan, tetapi tidak pernah menjadi milik diri. Keindahan dunia yang amat menarik akhirnya mengalahkan perhatian hidupnya. Tuhan sang Empunya kehidupan tidak pernah menjadi perhatian utama dalam hidup. Dan akhirnya benih yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat. Semuanya terasa indah dan membahagiakan karena melibatkan Allah. Hanya dalam Allah ada kehidupan dan keselamatan. Seseorang dapat mengalami sukacita rohani yang melimpah dan kebahagiaan insani, karena hidup dalam Allah. Sang Pencipta pasti semakin memberikan perhatian terhadap ciptaan yang menyenangkan hatiNya.

Mendengarkan sabda berarti mendengarkan Tuhan Allah sendiri yang menyatakan diri kepada umatNya. Allah menyatakan diri. Allah menyelamatkan. Allah menyatukan. Itulah yang kita renungkan kemarin;  di mana tidak ada lagi pembedaan aku dan kamu, kita semua satu saudara dalam Kristus Tuhan, yang adalah sabda dan kehendak Bapa sendiri. Apalagi Kristus memperlengkapi kita semua umatNya dengan karya penyelamatan melalui kurban persembahan yang dihunjukkan oleh sang Imam Agung dan sang Kurban  (Ibr 10), yang tidak lain dan tidak bukan DiriNya sendiri.

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, jadikanlahkami ini pendengar-pendengar sabdaMu, sebab hanya dalam sabdaMu, kami beroleh kehidupan yang nyata.

Santo Tomas Aquinas, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio

'Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!'.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening