Rabu sesudah Penampakan Tuhan, 7 Januari 2015


1Yoh 4: 11-18  +  Mzm 72  +  Mrk 6: 45-52

 

 

 

Lectio

Ketika itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, dan kemudia Ia menyuruh orang banyak pulang.  Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.  Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.  Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas permukaan air dan Ia hendak melewati mereka.  Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,  sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"  Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,  sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.

 

 

Meditatio

Ketika itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, dan kemudia Ia menyuruh orang banyak pulang.  Yesus memenuhi juga keinginan para muridNya agar banyak orang itu pulang; tentunya setelah mereka mendapatkan bekal makan bersama agar mereka tidak rebah di jalan.  Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.  Mengapa Yesus tidak mengajak mereka pergi berdoa terlebih dahulu ke seberang? Mengapa Yesus pergi seorang diri?  Kalau pun pernah dikatakanNya pada waktu mereka di taman Getzemani, itupun akhirnya tidak terjadi, karena para lawan yang menangkap Yesus sudah datang. Mengapa Yesus tidak pernah mengajari para muridNya berdoa, sebelum mereka memintaNya terlebih dahulu?

Ketika        hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.  Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Sejauhmana Dia mampu melihat para murid itu dalam keadaan letih? Mengapa baru pukul tiga Yesus mengejar dan mendekati mereka?  Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,  sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut.  Sungguh sangat wajar mereka takut, karena bagaimana Seorang Anak Manusia dapat berjalan di permukaan air? Bukankah Dia mempunyai beban berat? Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: 'tenanglah! Aku ini, jangan takut!'.  Yesus meneguhkan hati para murid, bahwa DiriNya adalah Yesus, Allah yang menyelamatkan. Bagaimana Seorang Allah yang menyelamatkan itu terikat oleh ruang dan waktu. Dia secara sengaja memang datang mengikatkan diri dalam ruang dan waktu, agar tidak seorang pun manusia yang memprotes DiriNya, bahwa Dia hanya pandai mewartakan kabar surgawi tetapi tidak mau dan tidak berani ikut merasakan bagaimana peliknya hidup dalam ruang dan waktu itu.  

Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,  sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil. Yesus yang memperganda roti sepertinya tidak menambah iman kepercayaan para murid. Namun tak dapat disangkal, yang perlu kita ambil nilai positifnya adalah bahwa iman mereka menang tidak sebatas adanya mukjizat, tidak sebatas adanya makanan dan minuman. Para murid tidak merasa puas melihat kehadiran Tuhan Yesus ketika Dia memperganda roti. Mereka tidak mau puas bahwa Yesus sedikit lebih hebat dari Elia yang mampu dilakukan terhadap janda Sarfat, yang mana tepung dan minyak yang digunakannya tidak pernah habis.

Kiranya perayaan Natal semakin menyadarkan kita bersama Allah yang adalah kasih itu (1Yoh 4) telah menjadi Manusia sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa. Yohanes benar-benar kurang menekankan segi historitas dalam misteri Natal, bukannya Dia tidak menaruh hati ketika Yesus lahir di Betlehem, tetapi lebih dari itu Natal dilihatnya memang sebagai misteri yang di luar kemampuan manusia, Allah menjadi Manusia.  'Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.  Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.  Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.  Dalam Dia ada hidup.  Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran'  (Yoh 1). Perayaan Natal harus membuat kita semakin percaya bahwa Dia itu ada di antara kita, ada di tengah kita, ada dalam keluarga dan diri kita masing-masing; bahkan tubuh kita adalah baitNya yang kudus.

Ingatlah, 'semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah' (Yoh 1).

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, perteguh iman kami bahwa Engkaulah Allah sang Penyelamat, yang senantiasa hadir mendampingi dan tinggal di dalam diri kami. Kami bersyukur karena kasihMu yang besar, Engkau memberi kami aneka anugerahMu, terlebih kami Kau angkat menjadi anak-anakMu. Amin

 

 

Contemplatio :

'Tenanglah!  Aku in, jangan takut!.'

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening