Sabtu dalam Pekan Biasa II, 24 Januari 2015


Ibr 9: 2-3  +  Mzm 47  +  Mrk 3: 20-21

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat.  Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

 

 

Meditatio

Pada suatu kali Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat.  Yesus tidak mampu membatasi orang-orang yang datang kepadaNya. Bagaimana memang harus ditolak bila mereka sudah ada di depan pintu. Media komunikasi yang amat terbatas, amat mempersulit bagi kelompok manapun untuk berkomunikasi dengan tepat guna. Kepergian Yesus yang pernah dilakukan di pagi hari, ketika belum ada orang datang memang amat memungkinkan tali kedatangan banyak orang itu diputuskan. Kiranya semuanya itu menunjukkan bahwa kehadiran Tuhan Yesus di tengah-tengah umatNya semakin disadari dan dirasakan oleh umat manusia.

Namun tak dapat disangkal, seindah-indahnya pohon yang tumbuh di bumi ini tidak dapat menghindari adanya angin beliung, ada terik matahari yang menyengat. Demikian pula kedatangan Yesus, tidak hanya dirasakan oleh mereka yang merindukan keselamatan tetapi juga dirasakan sebagai lawan tanding dalam kehidupan bersama, yang malah sering ditiupkan suara sumbang. Di jaman Yesus pun telah banyak issue sebagai pembunuhan karakter terhadap sesama; dan itulah yang sekarang dikenakan padaNya:  Yesus tidak waras lagi. Keluarga Yesus, yang mendengar nada sumbang berkenan dengan Yesus datang hendak mengambil Dia.

'Kristus telah datang sebagai Imam Besar, yang telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,  betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup' (Ibr 9: 11-14). Bagaimana kita menghadapi kehebatan mulia ini? Apakah kita berani memandang secara negative sebagaimana yang dilakukan orang-orang sejaman Yesus? Sebagai orang-orang yang tahu berterima kasih dan memang memerlukan keselamatan dari padaNya, kita malah bersyukur kepada Tuhan yang Empunya kehidupan ini yang rela hadir di tengah-tengah umatNya.

Sekarang ini untuk mengubah dunia perlu ide-ide gila. Gila, karena sulit dimengerti banyak orang. Gila karena mengubah tatanan social yang sudah amat dan nyaman itu. Kehadiran Yesus pun dianggap gila dan tidak waras lagi, karena mengobrak-abrik tatanan social hidup yang nyaman ini. Seharusnya setiap orang yang mengikuti Kristus juga berani menjadi orang-orang gila yang mengubah dunia ini.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kehadiranMu di tengah-tengah kami kiranya semakin menyadarkan kami akan kasihMu yang begitu besar, yang menyelamatkan setiap orang yang percaya kepadaMu. Mampukanlah kami, ya Yesus, untuk berani bertindak berbeda, kalau hal itu mendatangkan kebaikan dan kebenaran demi kemuliaan namaMu.

Santo Fransiskus, doakanlah kami. Amin

 

 

 

Contemplatio :

'Kaum keluarga Yesus datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi'.

 

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening