Sabtu dalam Pekan Biasa III, 31 Januari 2015

Ibr 11: 8-19  +  Mzm  +  Mrk 4: 35-41

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang."  Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.  Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.  Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"  Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"  Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: 'marilah kita bertolak ke seberang'. Untuk apa ke seberang, tidak dikatakanNya memang. Bukankah masih banyak orang di situ.  Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Yesus tidak mau tahu dengan banyaknya orang yang masih ingin mendengarkan pengajaran dan aneka mukjizat yang dilakukanNya. Mereka meninggalkan mereka semua, walau ada beberapa orang masih mau mengikutiNya. Sekali lagi, mereka tidak bertanya-tanya mau ke mana dan apa yang hendak dilakukan di sana. Yesus memanggil dan mengajak mereka, dan mereka pun segera bertindak. Kiranya pengalaman iman Abraham sebagaimana diceritakan kembali dalam surat kepada umat Ibrani (11) meneguhkan kita untuk berani bersikap seperti para murid. Percaya kepada Kristus memang tak jarang tidak mendapatkan kejelasan ke mana kita dipanggil.

Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.  Bagaimana dengan perahu-perahu yang lain? pasti sama juga. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Aneh juga memang. Yesus tidak merasakan goncangan perahu yang cukup hebat. Yesus tidak merasakan juga kegaduhan para murid untuk mengatasi gempuran taufan. Apakah Yesus benar-benar capek dan letih, sehingga Dia tertidur dengan pulas? Apakah Yesus pura-pura  tertidur? Masakan Dia tidak merasakan kegaduhan saat itu? Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: 'Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?'.  Para murid dengan terpaksa membangunkanNya. Keterlaluan Yesus ini,  begitulah komentar mereka mungkin, seperti dikatakan Marta kepada Yesus yang membiarkan Maria berdiam diri di sampingNya. Perasaan jengkel adalah amat wajar dalam hidup ini. Jengkel terhadap Yesus pun bahkan, sebagaimana dialami para murid.  Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: 'diam! Tenanglah!'.  Yesus tahu apa yang harus dibuat bagi para muridNya.  Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.  Mereka tidak mampu berkata-kata. Ternyata Yesus tahu apa yang terjadi. Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: 'siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?'. Alam semesta tunduk kepada Yesus, Anak Manusia. Unsur-unsur bumi merunduk di hadapanNya. Hanya Tuhan Allah sang Pencipta yang berkuasa atas alam semesta. Hanya Dia sang Empunya  kehidupan ini.

Lalu Ia berkata kepada mereka: 'mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?'. Apa yang harus kita jawab kalau kita pada waktu itu berada juga di dalam perahu itu? Dia yang berdiam diri dan pulas tertidur itulah yang membuat kami sulit mengerti. Namun mungkinkah bersama Yesus kita binasa dan mati? Ketidakpastian atau jawaban yang ditunda sering membuat kita gelisah dan kurang percaya.

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau yang Empunya kehidupan, yang berkuasa atas alam semesta. Di saat menghadapi persoalan, sering kami ragu, panik dan  tidak percaya kepadaMu. Ya Yesus, perteguhlah iman kami kepadaMu, agar kami sungguh-sungguh bersandar dan hanya mengandalkan Engkau dalam menghadapi situasi apapun.

Santo Yohanes Bosko, doakanlah kami.  Amin




Contemplatio

'Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?'

 

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening