Selasa dalam Pekan Biasa II, 20 Januari 2015


Ibr 6: 10-20  +  Mzm 111  +  Mrk 2: 23-28

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.  Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"  Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan,  bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu -- yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam -- dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?"  Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,  jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.  Entah kenapa para murid memetik bulir-bulir gadum. Apakah mereka lapar? Atau sekedar iseng aja? Tentunya mereka sekedar memeti beberapa biji saja, karena tujuan mereka ke daerah itu, bukan untuk memetic-metik, bahkan memanen gandum. Saat itu mereka sedang melewati kebun gandum.  Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: 'lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?'. Benar juga komentar orang-orang Farisi ini. Bukankah hari Sabat tidak boleh berkerja? Apakah para murid sudah ijin kepada sang pemilik kebun untuk memetik bulir-bulir gandum itu? Pertanyaan mereka masuk akal, tetapi tidak masuk hati, karena titik tolaknya adalah adanya larangan bekerja di hari Sabat, dan bukannya realitas yang mereka pandang. Nada emosi jiwa tidak suka terhadap segala karya pelayanan sang Guru melatarbelakangi pertanyaan mereka.   Jawab Yesus kepada mereka: 'belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan,  bagaimana ia masuk ke dalam rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar, lalu makan roti sajian,  yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam, dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya? Yesus meminta orang-orang Farisi memahami kelemahan dan keterbatasan para muridNya. Yesus membela para muridNya, yang sepertinya mereka lapar dan haus. Yesus melihat sungguh apa yang diperbuat para muridNya tidak melanggar hokum Tuhan dan tidak mendatangkan maut. Tuhan Yesus pasti melarang para muridNya, bila mereka hendak berbuat jahat dan melawan hokum Tuhan. Kalau sang Guru, Yesus sendiri tidak melarang para muridNya, mengapa orang-orang Farisi gelisah dan galau dengan perbuatan para muridNya.

'Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat'. Kiranya nilai manusia sebagai pribadi, milik Tuhan sang Empunya kehidupan, hendaknya menjadi perhatian utama dalam menjabarkan aneka peraturan yang diperuntukkan hidup bersama sebagai komunitas. Hari Sabat adalah hari di saat Tuhan beristirahat, setelah menciptakan seluruh dunia dan isinya. Hari Sabat sekarang ini dinikmati secara istimewa oleh orang-orang Israel guna mengkhususkan diri berjumpa  dengan Tuhan sang Pencipta. Hari Sabat adalah sebuah kesempatan untuk berjumpat dengan Tuhan. Maka benarlah kalau Yesus sendiri, yang menyadari siapakah diriNya, berkata  'Anak Manusia', yang adalah Allah menjadi Manusia itu 'adalah Tuhan atas hari Sabat'.

Abyatar sebagai Imam Besar,  amat baik terhadap para pengikuti Daud. Kalau Abyatar saja mampu melakukan yang baik bagi sesamanya, tentunya Imam Agung kita yang  telah mempersemahkan TubuhNya sendiri sebagai kurban persembahan yang menebus seluruh umat manusia. 'Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, pertama, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, dan kedua, tentang kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita' (Ibr 6: 18).

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, Engkau sendiri yang memahami kelemahan para muridMu, ajarilah kami untuk semakin menegerti bahwa Engkau benar-benar memahami segala keterbatasan dan kelemahan kami dalam mendekatkan diri kepadaMu. Sebab penyadaran ini akan membuat kami semakin merasakan bahwa Engkau mengasihi dan memperhatikan kami. Amin.


 

 

Contemplatio :

'Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening