Selasa sesudah Penampakan Tuhan, 6 Januari 2015


1Yoh 4: 7-11  +  Mzm 72  +  Mrk 6: 34-44

 

 

 

Lectio

Ketika Yesus turun dari perahu, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.  Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini."  Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?"  Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."  Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.  Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.  Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.  Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.  Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

 

 

Meditatio

Ketika Yesus turun dari perahu, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Yesus menaruh belaskasihan kepada mereka, tetapi Yesus tidak memberi sesuatu materi, melainkan sebuah pengajaran. Belaskasih hendaknya tidak kita mengerti berupa segala yang baik dan indah, dan bukannya juga aneka pemberian karitatif. Yesus mengajar mereka, karena Yesus tahu akan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Pemberian Yesus kepada umatNya selalu tepat guna, karena menjadi kebutuhan kita.

Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: 'tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini'. Para murid secara sengaja meminta Yesus supaya menyuruh orang-orang itu pulang, karena memang yang mereka cari dan mereka dengarkan adalah Yesus, sang Guru, dan bukannya diri para murid. Apalah artinya mereka dibanding dengan sang Guru. Mereka tak punya kuasa atas orang-orang yang datang untuk mendengarkanNya. Namun mengapa sampai para murid berkata-kata demikian? Apakah Yesus memang tidak tahu tentang nasib mereka itu?  Apakah Yesus tidak mempunyai hati lagi dalam pewartaan dengan mengabaikan kebutuhan dasariah umatNya?  Apakah pertanyaan para murid tidak menjadi pemikiran dan permenungan sang Guru?

'Kamu harus memberi mereka makan!', sahut Yesus kepada mereka. Ternyata Yesus tahu apa yang menjadi kebutuhan umatNya. Yesus sepertinya menanti pertanyaan itu keluar dari mulut para muridNya. Mendengar jawaban Yesus mereka berkomentar: 'haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?'  sepertinya para murid terbiasa dalam mengikuti pesta besar, sehingga jumlah orang sebanyak itu, sekitar  ada lima ribu orang laki-laki, tentunya belum terhitung kaum ibu dan anak-anak (Mat 14: 21), tidak cukup dibiayai dua ratus dinar. Yesus tidak menanggapi keluhan mereka; malah Yesus menantang mereka: 'berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!'.  'Lima roti dan dua ikan', sahut mereka.  Para murid, tentunya tidak duabelas rasul yang dimaksudkan, tidak seorang pun  yang membawa roti. Sebenarnya, apalah arti mereka mengatakan hal itu juga,  lima roti dan dua ikan, bila dibandingkan orang sebanyak itu. Bukankah uang sejumlah dua ratus dinar tidak cukup untuk memberi makan orang sebanyak itu.  

Lalu Yesus menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.  Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Besar kali jumlah anggota satu kelompok.  Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka. Tentunya boleh diartikan para murid yang memberi mereka makan, sebagaimana permintaan Yesus, dan bukannya Yesus, karena memang para murid yang langsung membagikannya kepada orang-orang sebanyak itu. Sungguh luar biasa, lihatlah mereka semuanya makan sampai kenyang; dan orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.

 

 

 

Collatio :

Kita memang tidak diminta untuk memperbanyak roti. Banyak orang telah memilikinya. Kalau pun ada pertemuan-pertemuan akbar, banyak orang sudah mengerti untuk membawa bekal, atau pun kalau tidak, mereka siap membeli anaka makanan yang memang mudah didapat sekarang ini dengan mudahnya dibandingkan di jaman Yesus. Namun tak dapat disangkal,  kita tetap diminta untuk berani membagi roti kasih yang kita miliki. Kita telah mendapatkannya dari Allah sendiri, dan kita diminta membagikannya sebagai tanda bahwa kita juga ingin bersikap sebagai Allah sendiri yang baik hati kepada kita. Allah telah mendahului dan membekali kita dengan roti kasihNya.  'Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.  Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.  Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita' (1Yoh 4: 7-10).

Kasih itulah roti pemberian kita kepada sesama. Roti inilah yang lebih dibutuhkan oleh sesama kita, dibandingkan dengan aneka jenis jajanan yang mudah diperoleh di mana-mana. Kasih kita semakin mampu dirasakan oleh orang lain, kalau memang kita berani menyempurnakannnya di dalam Allah. Kasih kita tidak akan berkesudahan, bila membagikannya kepada orang lain, karena kasih itu adalah Allah sendiri.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kami ingin selalu berani berbagi kasih, karena memang kami juga ingin bersikap seperti Engakau yang murah hati terhadap semua orang. Bantulah kami dengan terang RohMu, agar kami mampu melahirkan diri kami sebagaimana yang Engkau sendiri lakukan di tengah-tengah kami . Amin.

 

 

 

Contemplatio :

''Kamu harus memberi mereka makan!'.

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening