Jumat dalam Pekan Biasa V, 13 Februari 2015

Kej 3: 1-8  +  Mzm 32  +  Mrk 7: 31-37

 

 

Lectio

Pada suatu kali Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.  Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.  Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.  Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!  Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.  Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.  Di mana daerah Dekapolis itu?  Sebagaimana tergambar di peta, Dekapolis adalah komunikasi sepuluh kota yang berada di wilayah timur sungai Yordan; di situ banyak berdomisili orang-orang Yunani. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Mengapa mereka langsung meminta Yesus bertindak demikian? Mengapa mereka tidak cukup meminta Yesus menyembuhkan orang tuli itu? Apakah gambaran mereka bahwasannya seorang tabib selalu menumpangkan tangan ke atas orang sakit?

Tanpa banyak kata, sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.  Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: 'efata!', artinya terbukalah.  Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.  Mereka takjub dan tercengang dan berkata: 'Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata'. Mengapa Yesus tidak langsung berkata efata, mengapa dia memakai aneka gerakan, yang sepertinya harus dilakukan? Bolehlah Dia berkata-kata dengan bahasa mereka, tetapi mengapa harus memakai aneka gerakan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan?

Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga, tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Maksud baik kita memang tidak selalu sesuai dengan kehendak Allah. Sebagai orang beriman, kita seharusnya tahu: yang mana harus kita utamakan. Apakah buah terlarang dalam kitab Kejadian juga akan tetap dimakan seandainya tidak diberitahukan (Kej 3), apalagi bentuk dan jenisnya tidak dikhususkan? Kuncinya sebenarnya dalam kecenderungan hati setiap orang. Bukan soal buah tentunya, tetapi kecenderungan insani yang ingin tahu segalanya, termasuk kepuasan dan kekuasaan, yang sering kali menjadi penyebabnya. Bukankah segala yang masuk ke tubuh seseorang tidak menajiskan, malahn yang keluar dari diri manusia itulah yang menajiskan?

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bukalah mata dan telinga hati kami untuk semakin berani menerima sabdaMu dan memberitakan keselamatan yang telah kami alami kepada orang lain, agar semakin banyak orang mengenal dan mengalami kasihMu di dalam hidupnya. Amin

 

 

Contemplatio

'Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata'.

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening