Jumat dalam Pekan Prapaskah I, 27 Februari 2015


Yeh 18: 21-28  +  Mzm 130  +  Mat 5: 27-26






Lectio :


Suatu hari bersabdalah Yesus: 'Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.  Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.  Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'.





Meditatio :


'Aku berkata kepadamu: jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'. Sebuah permintaan yang amat berat memang. Kalau kemarin para murid, kita semua, diajak untuk berani mendahului dalam berbuat baik, hari ini malah kebaikan itu harus mempunyai kualitas yang lebih baik dan tinggi nilainya dari orang-orang, yang jaman itu sudah mempunyai nama baik, yakni kaum Farisi dan para ahli Taurat. Mereka kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat yang ditinggikan di mata masyarakat, direndahkan dan dijadikan ukuran terendah di hadapan mataNya yang kudus. Setiap orang yang asal-asalan berbuat baik, dia tidak akan masuk dalam Kerajaan Surga.

Yesus memberi contoh konkrit dalam kualifiasi kebaikan dalam penjabaran iman. Pertama, perintah  yang difirmankan kepada nenek moyang kita: jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Itu baik, tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum. Demikian juga siapa yang berkata kepada saudaranya: kafir, dia harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: jahil, harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Mengapa? Bukankah pembunuhan adalah tindak-lanjut dari sebuah kemarahan? Hanya orang sehat jiwa raganya mempunyai alasan kuat untuk membunuh sesamanya. Hendaknya kita tidak membiarkan kemarahan itu bertumbuh subur dalam diri kita; semenjak awal haruslah dikikis habis. Orang yang marah harus dihukum. Orang yang omong kasar dan emosional pun harus dimintai pertangungan jawab. Dosa besar itu berasal dari pembiaran akan benih-benih dosa dalam diri setiap orang.

Kedua,  jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.  Berdamai itu lebih penting daripada persembahan. Permusuhan dengan sesama akan menghambat pendamaian seseorang dengan Allah, minimal dia akan dilemparkan ke dalam penjara hingga mampu membayar hutangnya sampai lunas'. Persembahan yang dihunjukkan dalam peribadatan bukanlah sekedar lambang atau simbol, tetapi benar-benar sikap pendamaian diri dengan Allah Bapa, sang Empunya kehidupan. Maka pendamaian dengan sesama kiranya dikonkritkan terlebih dahulu sembari mendekatkan diri kepada Tuhan. 'Jikalau seorang berkata: aku mengasihi Allah,  dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya' (1Yoh 4: 20-21).

Pendamaian adalah pertobatan, baik terhadap Tuhan atau pun terhadap sesama. Pertobatan mendatangkan keselamatan; segala kesalahan dan kelemahan di masa lampau tidak diperhitungkan oleh Tuhan (Yeh 18).





Oratio :


Ya Yesus Kristus, luluhkanlah hati dan budi kami, agar kami mempunyai jiwa yang sabar dan melakukan segala yang Engkau kehendaki; dan kami pun akan semakin berani melakukan segala tindakan nyata yang membawa sukacita bagi sesama, dan bukannya sebatas ucapan bibir yang hanya untuk menyenangkan hati. Amin




Contemplatio :


'Aku berkata kepadamu: jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'.









Oremus Inter Nos
Marilah kita saling mendoakan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening