Minggu dalam Pekan Biasa IV, 15 Februari 2015

Im 13: 44-46  +  1Kor 10:31 – 11:1  +  Mrk 1: 40-45




Lectio

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku."  Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir."  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.  Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:  "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka."  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

 

 

Meditatio

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya, ia memohon bantuan-Nya. Dari mana dia tahu tentang sang Guru dari Nazaret itu? Katanya: 'kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku'. Sebuah permintaan yang menunjukkan kerendahan hati yang mendalam. Permohonan memang amat bermakna bagi setiap orang, terlebih bila bernada pengharapan akan sesuatu yang lebih baik. Permohonan yang percaya akan kebaikan dan kemurahan hati sang Pemberi. Mengapa orang kusta itu memohon dengan kata-kata kalau Engkau mau,  apakah dia memang siap jika Yesus menjawab tidak mau?  Apakah dia berkata begitu, karena dia mendengar penegasan Yesus bahwa Dia datang untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah, dan bukannya mengadakan aneka mukjizat, sebagaimana kita renungkan minggu kemarin? Orang kusta itu menangkap baik kehendak Yesus, maka dia memohon dengan kata-kata kalau Engkau mau.

Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: 'Aku mau, jadilah engkau tahir'.  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Tuhan Yesus menjadikan segala-galanya baik adanya;  'yang bisu berkata-kata, yang timpang sembuh, yang lumpuh berjalan, yang buta melihat' (Mat 15: 31). Di luar rencanaNya memang untuk  menyembuhkan orang yang datang kepadaNya, tetapi belaskasih Allah lebih berbicara dalam diriNya.

Segera Yesus menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:  'ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka'.  Yesus tidak berkata mari ikutilah Aku untuk memberi kesaksian, seperti dikatakan kepada Petrus dan Andreas,  tetapi malahan melarang memberitahukan kepada siapapun. Mengapa Yesus melarangnya? Yesus hanya meminta mereka mematuhi hukum dan aturan yang telah tersurat bagi mereka yang telah mendapatkan kesembuhan. Hukum dan aturan bersama adalah kebutuhan konkrit dalam hidup bersama, sebagaimana disuratkan dalam kitab Imamat 13. Permintaan Yesus amat standard, mengikuti aturan yang berlaku pada waktu itu, sekaligus tentunya permintaanNya itu mengingatkan mereka akan penegasan yang telah disampaikan bahwa Dia datang untuk mewartakan Injil Allah.

Orang itu pun pergi, memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. Apakah yang dilakukan orang yang tadinya sakit kusta itu sebuah dosa, karena tidak mentaati kehendak Yesus sang Guru? Bukankah semuanya itu malahan dilakukan dengan sengaja (bdk 1Yoh 5: 16)? Dia memang melawan kehendak Yesus, tetapi dia tidak memberontak melawan sang Empunya keselamatan. Sebaliknya dia malah mau berbagi keselamatan dengan orang lain, karena rahmat dan berkat Allah yang telah diterimanya. Orang kusta itu bukanlah berjiwa pemberontak, melainkan hendak berbagi kasih yang diterimanya dari sang Penyelamat.

Namun kiranya kita juga harus berani berkata bahwa ketaatan hidup amatlah penting dalam hidup ini. Kemauan baik orang yang tadinya kusta itu sungguh-sungguh menghalang-halangi kehendak Yesus yang mewartakan sabda dan kehendak Bapa, yakni Injil Allah. Sebab memang Dia idak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ketaatan seorang kusta tadi seharusnya semakin melapangkan kehendak Allah untuk mewartakan Injil Allah. Ketaatan seorang manusia akan membuat kemuliaan Allah semakin mampu dirasakan oleh banyak orang, dan bukan hanya seorang pribadi. Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus juga menegaskan pilihan hidupnya dengan berkata: 'aku selalu berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat' (1Kor 10: 33). Memang kematian adalah keuntungan bagiku, kata Paulus, aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus, itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu, supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman, dan kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah (Fil 1: 21-26). Sebab memang ketaatan adalah sebuah keberanian untuk menomersatukan kehendak Allah daripada kemauan pribadi. Ketaatan adalah sebuah pengorbanan diri akan yang dimiliki, yang memang jelas bagus dan indah adanya dan menyerahkan kepada Dia sang Empunya kehidupan, atau pun kepada seseorang yang kepadanya kita telah berpasrah diri.

Kalau kita, adalah orang-orang yang tahu berterima kasih, karena memang telah menerima banyak rahmat dan berkat daripadaNya; dan kita pun harus semakin tahu kepada siapakah kita berserah diri.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, bantulah kami selalu untuk mengutamakan kehendakMu di atas segala kepentingan diri sendiri, berani menomerduakan kehendak dan kemampuan diri, sebab hanya padaMulah kami berserah. Amin

 

 

 

Contemplatio :

'Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa'.

 

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening