Minggu dalam Pekan Prapaskah II, 1 Maret 2015

Kej 22: 10-13  +  Rom 8: 31-344  +  Mrk 9: 2-10






Lectio

Suatu hari Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,   dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.  Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.   Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."   Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.   Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.  Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.   Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."

 

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi.  Kapan itu, hari apa? Untuk apa mereka ke sana? Gunung apa itu? Mengapa hanya  Petrus, Yakobus dan Yohanes saja yang diajak, ke manakah para murid yang lain? Di situ mereka sendirian saja. Tidak ada kelompok lain yang datang ke atas. Apakah gunung itu ramai dikunjungi banyak orang, sehingga perlu keterangan seperti itu?  Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Mengapa Yesus tiba-tiba berubah rupa? Apakah pada waktu itu mereka sedang berdoa? Yesus tampil beda, penuh kemegahan.  Pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat; sungguh  tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.

Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.  Dua tokoh besar dalam sejarah Israel, dalam Perjanjian Lama, Elia dan Musa tampil bersama Yesus. Elia disebut yang pertama karena mereka sepertinya percaya sungguh bahwa Elia baru akan datang. Dia akan datang kembali. Ini adalah kemuliaan surgawi; dan gunung adalah wilayah yang dekat dengan surga dibanding wilayah lain yang ada di  bumi ini.  Kata Petrus kepada Yesus: 'Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini'. Sebuah ungkapan jujur, yang sekaligus berpengharapan agar semuanya itu tidak cepat berlalu. Karena itu, 'baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia'.   Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Tentunya Petrus bukan tidak tahu untuk berkata-kata. Ucapannya benar-benar menginginkan agar kebahagiaan dan sukacita tetap ingin mereka rasakan. Siapakah yang tidak bergembira dan terus ingin berada dalam sukacita ilahi? Petrus tidak tahu berkata-kata lain, sebab dia hanya ingin semuanya ini terus berlangsung.

Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: 'inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia'. Itulah suara dari surga. Itulah suara Allah sendiri. Allah menyatakan diri. Sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. Suara itu ternyata berkata-kata tentang Yesus, dan bukan tentang Elia atau Musa. Hanya ada Yesus maka dikatakan demikian.

Mendengarkan Yesus adalah satu-satunya cara untuk menikmati kemuliaan bersama Allah. Tinggal bersama Allah tidak perlu naik ke gunung yang tinggi, walau tak dapat disangkal di atas gunung menjadi gambaran pertemuan Allah dan manusia dalam konsep pikiran banyak orang. Abraham pun menjadi bapa bangsa, bukannya dia telah berada di gunung Moria, melainkan karena ketaatannya mendengarkan sabda dan kehendak Tuhan. 'Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,  maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.  Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku' (Kej 22: 16-18). Mendengarkan sabda dan kehendak  Yesus membawa kita kepada kemuliaan Allah dan membuat kita menjadi berkat bagi sesama.

Dengan mendengarkan Yesus, Anak yang dikasihi Bapa berarti juga kita berada di pihak Allah, karena kita mengikuti kemauan Allah. Kalau kita berada di pihakNya, kalau Allah ada dalam diri kita, kalau kita percaya kepadaNya, kalau kita melakukan kehendakNya, siapakah dapat melawan kita? (Rom 8: 31). Sungguh benar memang,  'inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita' (1Yoh 5: 4).

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.  Mengapa? Bukankah dengan mengetahui siapakah Yesus, orang akan semakin berani mengikuti diriNya? Yesus sepertinya mengajak setiap orang untuk sendiri berani berkata-kata tentang diriNya setelah Dia membuat aneka tanda. Dia bukan seorang pembuat aneka mukjizat, tetapi semuanya itu dilakukan guna mengajak setiap orang untuk berkata-kata Siapakah Dia Orang Agung ini. 'Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya' (Mrk 4: 41), kata-kata inilah yang seharusnya keluar dari setiap orang yang menikmati aneka tanda yang dibuatNya. Kebangkitan adalah saat terakhir bagi setiap orang untuk berani berkata bahwa Dia adalah Allah.  Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan bangkit dari antara orang mati.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ubahlah cara pandang kami untuk tinggal dalam kemuliaanMu, bukan di tempat yang tinggi ataupun bangunan yang megah, melainkan bagaimana kami setia menanggapi sabda dan melakukan kehendakMulah kami dapat menikmati kemuliaan bersamaMu. Amin

 

 

Contemplatio :

'Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia'.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening