Rabu dalam Pekan Biasa V, 11 Februari 2015

Kej 2: 4-9  +  Mzm 104  +  Mrk 7: 14-23

 

 

Lectio

Pada suatu kali Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.  Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!  Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya,  karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,  sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,  perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.  Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

 

 

 

Meditatio

'Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.  Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya', tegas Yesus kepada para muridNya. Namun tak mengerti juga mereka apa yang dikatakanNya, walau sudah ditegaskan:  'barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar'. Aneh juga bagi Yesus, bahwasannya perkataanNya itu belum juga dimengerti oleh para muridNya. Apa tidak salah pilih Yesus akan para muridNya ini?

'Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya,  karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?'.  Tidak ada sepotong makanan pun yang mampu menajiskan diri seseorang, sebab memang semua makanan itu halal. Tak dapat disangkal memang, ada orang yang harus berpantang sesuatu mengingat kesehatan fisiknya, yang mana seorang berbeda satu dengan lainnya. Keberanian orang untuk berpantang diri memberika  makna kesehatan yang amat positif. Ketidaksehatan seseorang dalam mengkonsumsi makanan bukanlah soal najis atau tidak. Seorang najis adalah dia bergelimang dalam dosa, dan bukannya orang yang terganggu kesehatannya.  Setiap orang harus berani berjaga diri demi kesehatannya.  

'Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,  sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,  perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.  Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang'. Kejahatan dan dosa itu berasal dari dalam diri seseorang, dan bukannya dari luar diri seseorang. Kalau Allah mengingatkan umatNya: 'semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,  tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati' (Kej 2: 16-17), dimaksudkan agar kita berani menyangkal diri dan mau taat pada perintahNya.

 

 

 

Oratio

 Ya Tuhan Yesus, Engkau mengajari kami bagaimana memahami arti dosa dan najis itu. Seringkali tidak kami sadari, bahwa diri kami sendirilah yang membuat diri ini naijis dan berdosa di hadapanMu dan sesama, yang semua karena egoisme diri yang amat kuat. Bantulah kami untuk menguduskan diri di hadapaMu. Amin.

 

 

Contemplatio

'Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya'.

 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening