Selasa dalam Pekan Biasa IV, 3 Februari 2015

Ibr 12: 1-4  +  Mzm 22  +  Mrk 5: 21-43

 

 

 

Lectio

Suatu hari  Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau,  datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya  dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Pada waktu itu ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.  Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.  Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.  Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."  Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.  Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?"  Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?"  Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.  Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.  Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?"  Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!"  Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus.

Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring.  Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!"  Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu.  Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"  Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub.  Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

 

 

Meditatio

Suatu hari  Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia.  Mereka datang semua pasti ingin mendengarkan sabda pengajaran yang disampaikan oleh Yesus. Bukankah mereka semua kagum akan pengajaranNya. Sedang Ia berada di tepi danau,  datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Adakah dia mempunyai kepentingan sehingga mau datang untuk mendengarkan pengajaran Yesus?  Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya  dan memohon dengan sangat kepada-Nya: 'anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup'.  Suatu permohonan penuh kerendahan hati. Seorang kepala rumah ibadat berani datang memohon bantuan dari seorang Guru dari Nazaret.  Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Mengapa Yesus memperbolehkan mereka semua mengikutiNya? Bukankah akan mempersulit perjalanan? Bukankah gerombolan orang yang banyak jumlahnya juga akan mengganggu ketertiban sosial?

Pada waktu itu ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.  Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.  Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.  Nekat sungguh perempuan ini. Bukankah dia seorang perempuan, yang dinomerduakan dalam masyarakat Yahudi? Apakah dia sendiri tidak merasa kotor di antara banyak orang?  Berkat pengenalannya akan Yesus, dia berani menerobos sekat-sekat dalam masyarakat.  Sebab katanya: 'asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh'. Inilah iman kepercayaan seorang perempuan yang sakit pendarahan.  Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Iman membawa kesembuhaan baginya.  Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: 'siapa yang menjamah jubah-Ku?'. Mengapa Yesus bertanya? Tidak tahukah Dia, siapakah yang menjamahNya? Masakan seorang Tuhan tidak mengetahuinya? Apakah Yesus, yang memang Allah yang menjelma,  sebenarnya hanya ingin menunjukkan bahwa memang diriNya itu sungguh-sungguh manusia biasa sama seprti kita umatNya?   Murid-murid-Nya menjawab: 'Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: siapa yang menjamah Aku?'. Sebuah tanggapan yang benar-benar logis. Parhuta-huta hian Ho, mungkin kata teman saya di Pardomuan Nauli sana.  Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Apakah Yesus hendak mencari kejujuran seseorang yang telah mendapatkan berkat Allah?  Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Perempuan itupun dengan berani mengatakan apa yang terjadi dengan dirinya.  Maka kata-Nya kepada perempuan itu: 'hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau'. Iman kepercayaan, bukan saja mendatangkan anugerah, melainkan lebih dari itu juga menurunkan keselamatan bagi setiap orang. 'Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!'. Yesus menambahkan kembali rahmat kasih Allah yang dinikmati ibu itu, yakni keselamatan dan kesembuhan.

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: 'anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?'. Benar juga pendapat mereka.  Yesus memang mengajar dengan penuh kuasa. Dia mampu menyembuhkan, dia mampu mengadakan aneka mukjizat. Alam semesta pun ditundukkan, bahkan kuasa kegelapan pun merunduk di hadapanNya.  Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat:  'jangan takut, percaya saja!'. Yesus menantang mereka semua untuk lebih taat kepada Tuhan sang Empunya kehidupan. Percaya kepada Tuhan tentunya lebih baik dan benar, daripada percaya kepada manusia, yang memang selalu berpikir logis.  Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mengapa Yesus baru sekarang melarang banyak orang mengikuti diriNya. Apakah Yesus sudah merasakan kegaduhan dalam peristiwa ini?

Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring.  Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: 'mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!'. Saapakah yang benar sekarang ini? Apakah memang mereka tidak tahu tanda-tanda kematian? Apakah yang disebut mati itu? Mereka semuanya pasti tahu itu, maka mereka menertawakan Dia. Lalu kenapa Yesus berkata demikian? Apakah Yesus mengada-ada saja? Apakah Yesus mencari sensasi?  Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Kedua orangtua adalah pemilik resmi dari sang anak itu, bukan nenek atau kakeknya, sebagaimana yang dilakukan oleh keluarga-keluarga muda yang tahu diri sekarang ini. Atau memang kakek dan neneknya yang mau berkuasa dan merasa pandai dan tahu segalanya?  

Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya:  'talita kum', yang berarti: 'hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!'. Yesus menyatakan siapakah diriNya.  Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun.  Yesus adalah sang Empunya kehidupan, maka Dia mempunyai kuasa  membangunkan mereka yang telah mati, karena memang hanya tidur saja seturut pandangan Tuhan. Kuasa Yesus akan kehidupan itu semakin ditampakkan memang dalam kematian dan kebangkitanNya dari alam maut. Berkat kematian dan kebangkitanNya semua orang dibangkitkan dan hidup selalu bersamaNya. Barangsiapa percaya kepadaKu  akan hidup untuk selama-lamanya. Semua orang yang hadir sangat takjub.  Yesus menjadikan segala-galanya baik adanya. Yang hidup dibangkitkan.  Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.





Oratio

Ya Yesus Kristus, berikankanlah kami kerendahan hati dan iman yang teguh kepadaMu, agar semakin berani datang memohon belas kasihMu, karena hanya Engkaulah yang sanggup memberikan rahmat kesembuhan dan keselamatan bagi kami yang percaya kepadaMu. Amin




Contemplatio

'Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup'.






 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening