Senin dalam Pekan Biasa IV, 16 Februari 2015

Kej 4: 1-15  +  Mzm 50  +  Mrk 8: 11-13

 

 

Lectio

Suatu hari muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga.  Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda."  Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.

 

 

Meditatio

Suatu hari muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Entah soal apa saja yang mereka bicarakan. Minimal  untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Mereka meminta tanda. Apakah aneka mukjizat yang dikerjakan Yesus tidak mampu menjadi tanda bagi mereka? Siapakah dapat memperganda roti dan ikan? Siapakah dapat menyembuhkan orang sakit? Siapakah yang dapat mengusir kuasa kegelapan? Siapakah yang dapat merendahkan angin ribut dan badai? Semuanya telah dikerjakan Yesus.  Apakah semua itu belum memberi tanda siapakah Orang Nazaret ini? Apakah mereka sungguh degil dan keras kepala seperti yang dialami Kain, yang dengan teganya membunuh adik kandungnya sendiri, sebagaimana diceritakan dalam kitab Kejadian bab 4?  Benar memang. Mereka nantinya akan membunuh Anak Bangsa sendiri, Putera Israel, umat pilihan Allah.  Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya.  Apakah semuanya ini juga sebagai resiko, bahwasnnya Yesus selalu melarang untuk berkata-kata tentang peristiwa mukjizat yang telah dilakukanNya? Mereka ini sepertinya tidak sepandai orang kusta yang memohon pertolongan dari sang Guru, sebagaimana kita renungkan juga di hari Minggu kemarin. Mereka ini pandai dalam kitab suci, tetapi sama sekali tidak menghayatinya.  

Yesus pun berkata: 'mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda'. Yesus berkata demikian, karena memang Dia tidak mau mengikuti keinginan mereka. Tidak mungkin mengadakan mukjizat hanya berdasar kemauan mereka, orang-orang yang memang tidak membutuhkan belaskasih Allah. Mukjizat hanya diadakan untk mereka yang memerlukan uluran belaskasih Allah. Mereka hanya mampu melihat Yesus dengan mata kepala saja, tetapi tidak mampu memandangNya dengan mata hatinya. Bukankah juga kehadiran Yesus sendiri adalah tanda bagi seleuruh umatNya, bahwasannya Allah itu tidak jauh di sana, melainkan ada di dekat kita, dan ada di antara kita. Dia yang mahaagung dan mulia itu hadir dalam manusia lemah dan berdaya itu, walau Dia sama sekali tidak dikuasai dosa.  Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, lembutkanlah hati kami ini, sebab hanya padaMulah ada kehidupan dan keselamatan. Amin.

 

 

 

Contemplatio :

'Mengeluhlah Ia dalam hati-Nya'.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening