Jumat dalam Pekan Prapaskah III, 13 Maret 2015


Hos 14: 2-10  +  Mzm 81  +  Mrk 12: 28-34

 

 

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"  Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.  Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.  Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."  Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

 

 

 

Meditatio

'Hukum manakah yang paling utama?', tanya  seorang ahli Taurat kepada Yesus yang memang telah dianggapnya memberi jawab yang tepat kepada orang-orang, yang mendengarkan pengajaranNya. Mendengar pertanyaan orang itu, bersabdalah Yesus: 'hukum yang terutama ialah: dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.  Hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini'. Hukum kasih terhadap Tuhan dan sesama seperti berkaitan satu sama lain, yang memang tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Keduanya saling mengandaikan satu dengan lainnya. Kedua hukum itu adalah hukum utama, hukum tertinggi, tidak ada hukum lain yang mampu mengatasinya.   

Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: 'tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu', pertama, 'bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia', hanya kepadaNyalah kita harus menaruh sembah dan sujud kita. Dialah sang Empunya kehidupan. Kedua, bukankah kehadiran Allah itu tampak dalam diri sesama? Bukankah manusia itu, laki-laki dan perempuan itu diciptakan sesuai dengan gambar Allah? Bukankah Yesus sendiri malah menegaskan bahwa barangsiapa mengasihi sesama yang lemah itu tak ubahnya telah melakukan sendiri bagiNya? Karena itu, 'mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan'. Bukankah kurban bakaran dan persembahan itu hanyalah symbol dan lambang dari persembahan diri? Bukankah Tuhan Allah tidak membutuhkan makanan dan persembahan duniawi. Mengasihi Tuhan dan sesama itu lebih penting karena memang mengasihi adalah sikap dan tindakan konkrit dari kita manusia.

'Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!', kata Yesus membenarkan orang itu, karena dia menanggapinya dengan ketulusan hati dan budi. Ketulusan jiwa sang ahli Taurat ini sepertinya memahami sungguh apa yang dikatakan Allah melalui nabi Hosea: 'Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari pada-Ku engkau mendapat buah.  Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ' (Hos 14: 9-10). Sebab seperti yang dikatakan Yesus sendiri dalam Injil dua hari lalu: barangsiapa  yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga; dan itulah yang dinikmati sekarang oleh sang ahli Taurat sebagaimana dikatakan Yesus sendiri.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, mampukanlah kami untuk semakin dapat mengasihi sesama, terutama yang kecil dan tersisih, melalui merekalah kami dapat mengungkapkan kasih kepadaMu secara nyata. Amin

 

 

 

Contemplatio :

'Mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening