Rabu dalam Pekan Prapaskah II, 4 Maret 2015

Yer 18: 18-20  +  Mzm 31  +  Mat 20: 17-28

 

 

 

 

 

Lectio

Suatu hari ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan:  "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.  Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan."

 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.  Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."  Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat."  Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,  dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;  sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

 

 

 

Meditatio

Suatu hari ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri. Yerusalem adalah kota yang penuh arti bagi bangsa Israel. Yesus hanya memanggil keduabelas muridNya, yang lain tidak.  Dalam kesendirian itulah, Yesus berkata kepada mereka di tengah jalan:  'sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati; dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan'.  Semua diam,  tidak ada yang komentar. Apakah mereka semua mengerti apa yang dikatakan sang Guru? Karena memang bukan untuk pertama kalinya Yesus mengatakan hal itu. Apakah mereka takut malahan dengan derita yang dialami sang Guru? Lebih baik diam, dan bila perlu melarikan diri, supaya tidak kena imbasnya. Segala yang dilakukan dan dikenakan terhadap seorang guru, akan berimbas kepada para murid, dan orang-orang yang percaya kepadanya.

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.  Dari mana dia tiba-tiba datang di antara para murid? Bukankah tidak ada orang yang tahu? Atau berjumpa di jalan tadi. Sepertinya cerita itu tadi tidak berkelanjutan.  Kata Yesus: 'apa yang kaukehendaki?'.  Yang menantang ibu Zebedeus. Jawabnya: 'berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu'. Sebuah permintaan yang amat istimewa, dan menunjuk kebertangunganjawab seorang ibu terhadap anak-anaknya. Seorang ibu selalu menghendaki anaknya bahagia dan sukses.  Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya:   'kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?'.  Yesus tidak mengamini langsung permintaan ibu itu. Yesus malah menantang secara tegas kepada kedua anak Zebedeus. Sebuah jawaban yang tidak diberikanNya secara cuma-cuma. Kata mereka kepada-Nya: 'kami dapat'.  Berani juga mereka itu.  Yesus berkata kepada mereka: 'cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya'. Yesus mementahkan keberanian dan harapan mereka.  Melaksanakan kehendak dan kemauan Tuhan sepertinya tidak memberi jaminan kepada setiap orang yang berani melaksanakannya, terlebih kalau sikap pamrih yang mendasari sebuah sikap dan permohonan. Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Mereka marah karena tidak ingin kedua saudara itu mendapatkan perlakuan istimewa dari sang Guru.

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, dan mendamaikan mereka semua:  'kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka; tidaklah demikian di antara kamu'. Para murid tidak boleh bersikap seperti para penguasa. Dalam hidup keagamaan saja mereka harus lebih dari kaum Farisi dan ahli Taurat, apalagi dalam kehidupan bersama.  'Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,  dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu', tegas Yesus. Menjadi orang besar dan terkemuka harus dilaluinya mulai dari bawah. Orang tidak boleh mendapat hak warisan atas jasa baik yang diberikan kepada para pendahulunya. Orang besar adalah dia yang mampu mengendalikan diri, mengatasi diri dan menjadi sesama bagi orang lain. Sejauh mana orang harus berani melayani, dan sampai mana? Yesus memberi ukuran:  'sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'. Ada Tuhan memang demi umatNya. Manusia mencari Allah, karena manusia ingin menikmati sukacita ilahi. Namun banyak orang tak menyadari, kalau kasih Allah itu mendahului kemauan manusia dalam mencari keselamatan. Spiritualitas kristiani malah menyadarkan banyak orang bahwa Allah tidak jauh di sana, Allah tidak mengasihi setelah dicari oleh umatNya, sebaliknya Allah malah mau datang ke dunia menyapa umatNya, mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan bahkan menyerahkan nyawa menjadi tebusan bagi seluruh umatNya.

Keluhan Yeremia bahwasannya kebaikan akan dibalas oleh kejahatan (Yer 18: 20) memang akan terus berlangsung; dan itulah realitas kehidupan yang memang seringkali jauh dari harapan kita. Allah sendiri telah membuktikan ketidaksetiaan umatNya dalam kehidupan sehari.  'Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenal hikmat Allah, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia' (1Kor 2: 10) adalah sebuah penyataan halus rasul Paulus yang hendak menyatakan betapa acuh tak acuhnya, betapa tidak mau tahunya manusia itu terhadap segala kebaikan Allah. Adalah lebih baik untuk selalu memohon belaskasih Allah dalam setiap langkah hidup kita sebagaimana dikumandangkan Mazmur hari ini (31).

 

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, mampukan kami untuk mengerti akan sabdaMu bahwa untuk menjadi besar di hadapanMu dan sesama, kami harus mampu mengendalikan diri, melayani dan menjadi sesame, terutama bagi mereka yang berkekurangan dan membutuhkan kami. Bantulah kami denga Roh kasihMu selalu, Amin





Contemplatio

'Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'.

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening