Selasa dalam Pekan Prapaskah II, 3 Maret 2015


Yes 1: 16-20  +  Mzm 50  +  Mat 23: 1-12





Lectio

Suatu hari Yesus berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:  'ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.  Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.  Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.  Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;  mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;  mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.  Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.  Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.  Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.  Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'.

 

 

 

Meditatio

'Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa', kata Yesus kepada semua orang yang mendengarkan pengajaranNya. Kursi Musa adalah symbol posisi sentral dalam hidup sosio-religi dalam bangsa Israel. Mereka yang berada di posisi itu mendapatkan penghormatan yang luar biasa. Karena posisi dan jabatan mereka yang amat central, maka 'turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya'. Yesus berkata demikian, bukan karena Dia ingin mencari kesalahan dan kelemahan mereka, melainkan hendak menyatakan kebenaran. Kemunafikan hidup yang ditampakkan dalam hidup bermasyarakat amat-amat menyengsarakan banyak orang. Yesus berkata demikian, tentunya setelah Dia sendiri menegur mereka secara terang-terangan.

Mereka itu sungguh-sungguh munafik. Mereka hanya mencari kepuasan diri.  'Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.  Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;  mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;  mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi'. Itulah alasan mengapa tindakan dan perbuatan orang-orang Farisi dan para ahi Taurat tidak perlu diperhatikan. Egoism diri dan kesombongan kiranya tidak perlu mendapatkan perhatian. Egoisme dan kesombongan diri adalah sikap dan tindakan hidup yang  tidak disukai oleh Tuhan; minimal sikap dan tindakan itu mencelakakan orang lain.

'Tetapi kamu', tegas Yesus kepada para muridNya,  'janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara'. Guru dari para murid, dan Guru kita adalah Yesus Kristus, Anak Manusia, yang kepadaNya Bapa menyatakan diri.  'Janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga'. Bapa kita adalah Tuhan Allah sang Pencipta. Dia mahakudus. Dia murah hati. Yesus bukannya menolak kehadiran dan peran seorang ayah atau bapa, tetapi yang dimaksudkan kepada Siapakah kita harus mengarahkan diri ini.  'Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias'. Hanya kepada Mesiaslah yang mengarahkan hidup setiap orang kepada keselamatan, bukan kepada para hakim atau para nabi. Mesias adalah sang Penyelamat; dan Mesias yang ada di depan mata mereka adalah sang Kristus Tuhan, yang anak melalui Dia semua orang dapat sampai kepada Bapa di surga  

'Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu'. Orang besar adalah orang yang mampu mengatasi diri, yang mampu melayani diri dan orang lain. Orang besar adalah yang mampu menjadi sesama bagi orang lain. Orang besar bukanlah pejabat. Orang besar adalah orang yang siap sedia melayani sesama. Orang besar adalah orang yang menjadi berkat bagi sesama.  'Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'. Semenjak awal Maria telah menyadari hal ini, dan mengingatkan bahwa Allah tidak menghendaki kesombongan dan kemegahan diri. Allah menghendaki orang-orang yang taat kepadaNya, sang Pemberi hidup.

Semua yang disampaikan Yesus sebenarnya bukanlah hal baru.  Yesaya, sang nabi, telah menyampaikan semuanya ini.  'Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,  belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.  Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang'. (Yes 1: 16-20).

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami mempunyai kerendahan hati dalam sikap hidup kami, agar tidak menjadi sombong dan egois, tetapi bagaimana kami dapat mengarahkan diri hanya kepadaMu, sang Anak yang hanya kepadaMu, Bapa menyatakan diri, yang membawa keselamatan bagi setiap orang. Amin

 

 

 

Contemplatio :

'Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening